Insitekaltim, Pasuruan — Sejarah Kota Pasuruan tak lagi hanya tersimpan dalam lembaran arsip kolonial yang berdebu. Melalui program Si Bang Jali (Sinau Bareng dan Jagongan Literasi), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kota Pasuruan menghadirkan kembali memori kota ke ruang publik dan ruang belajar generasi muda.

Kegiatan yang digelar di Gedung Harmonie pada Jumat, 28 November 2025 itu diikuti ratusan pelajar dari berbagai sekolah se-Kota Pasuruan, komunitas budaya, serta para sejarawan dan akademisi lintas kampus. Visualisasi peta lama, foto arsip, dan lanskap kawasan heritage Pasuruan ditampilkan sebagai latar utama membawa peserta seolah menyusuri kembali Pasuruan di era kolonial.
Sejumlah narasumber nasional dihadirkan dalam forum tersebut, di antaranya Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Malang Prof Dr Joko Sayono, Guru Besar Literasi Kolonial sekaligus Tim Ahli Cagar Budaya Provinsi Jawa Timur Prof Dr Wishnu, Pakar Epigrafi, Ismail Lutfi serta akademisi Universitas Negeri Surabaya Mohammad Refi Omar Ar Razy. Penulis kajian tentang Kawasan Elit Eropa Kota Pasuruan periode 1918–1942, Muhammad I’mad Hamdy.
Para pemateri membedah transformasi Kota Pasuruan pada masa Gemeente Pasoreoan termasuk pola pemukiman kolonial seperti Eropeesche Wijk, kawasan Pecinan, kampung Arab, serta pemukiman kaum priyayi dan pribumi. Materi yang ditampilkan tak hanya berupa narasi, tetapi juga berbasis arsip foto dan peta tata kota lama yang jarang tersentuh ruang kelas formal.
Kepala Dispendikbud Kota Pasuruan, Lucky Danardono menyebut, Si Bang Jali sebagai ikhtiar menghubungkan generasi muda dengan akar sejarah kotanya.
“Sejarah kota tidak boleh berhenti di rak arsip. Ia harus menjadi pengetahuan hidup yang dipahami generasi muda, karena di sanalah identitas dibangun,” ujar Lucky saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.
Kabid Kebudayaan Dispendikbud, Agus Budi Darmawan menegaskan, Si Bang Jali tidak hanya bersifat seremonial, melainkan bagian dari strategi jangka panjang penguatan literasi sejarah lokal.
“Kawasan heritage Pasuruan adalah ruang belajar terbuka. Tugas kami memastikan narasi sejarahnya disampaikan secara relevan, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan pelajar,” jelasnya.
Respons positif juga datang dari para peserta. Sejumlah pelajar mengaku baru mengetahui struktur sosial dan tata ruang Pasuruan di masa kolonial selama mengikuti forum ini. Bagi mereka, sejarah yang selama ini hanya dipelajari lewat buku pelajaran kini terasa lebih hidup dan mudah dipahami.
Para budayawan yang hadir pun memandang Si Bang Jali sebagai ruang penting memutus jarak antara generasi muda dan sejarah kotanya. Mereka menilai kegiatan semacam ini perlu digelar secara rutin agar sejarah tidak eksklusif hanya milik akademisi, tetapi menjadi milik warga Pasuruan.
Dengan konsep dialogis dan terbuka, Si Bang Jali 2025 menegaskan bahwa literasi sejarah tidak harus akademis dan kaku. Arsip kolonial, jika dikelola dengan tepat, justru bisa menjadi jembatan untuk menumbuhkan kesadaran identitas kolektif masyarakat kota.

