Artikel ini telah dilihat : 199 kali.
oleh

Saparudin Jelaskan Metode Asesmen Nasional Tahun 2021 Tak Ada UN, Gantinya AN

Reporter: Mohammad-Editor: Redaksi

Insitekaltim, Bontang – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah menghapuskan Ujian Nasional (UN) dan menggantinya dengan Asesmen Nasional (AN) pada tahun 2021. Tentu hal ini sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang didukung penuh oleh Presiden Joko Widodo.

Keputusan Mendikbud Nadiem tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Bontang Saparudin. Menurut Saparudin, ada tiga aspek yang disampaikan Kemendikbud dalam kegiatan sosialisasi dan koordinasi persiapan kegiatan AN tahun 2021. Kegiatan tersebut dilakukan pertemuan virtual (zoom meeting) di Aula Autis Center Bontang Jumat (16/10/2020).

“Untuk hasil virtual, tahun 2021 sudah dilakukan test asessment secara nasional tapi masih tidak menyeluruh. Sasarannya adalah siswa SD kelas 5 dan siswa SMP kelas 8. Disamping itu guru melakukan asesmen juga” ungkap Saparudin kepada insitekaltim.com.

Saparudin menjelaskan bahwa Asesmen Nasional tidak hanya dirancang sebagai pengganti UN, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan.

Saparudin mengatakan, perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, akan tetapi mengevaluasi serta memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.

“Layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil Asesmen Nasional ini menjadi cermin untuk kita bersama-sama melakukan mempercepat perbaikan mutu pendidikan,” ucap Saparudin.

Baca Juga :  Bagaimana Cara Membuat Video KOSN-XIII? Simak, Berikut Penjelasannya

Tujuan utamanya UN diganti adalah mendorong perbaikan mutu pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

Asesmen Nasional 2021 adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program keseteraan jenjang sekolah dasar dan menengah. Asesmen Nasional terdiri dari tiga bagian, yaitu:

Pertama, Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dirancang sebagai alat ukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi.

“Fokus pada kemampuan literasi dan numerasi tidak kemudian mengecilkan arti penting mata pelajaran. Karena justru membantu murid mempelajari bidang ilmu lain terutama untuk berpikir dan mencerna informasi dalam bentuk tertulis dan dalam bantuk angka atau secara kuantitatif,” jelas Saparudin.

Dua, Survei Karakter yang dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial-emosional. “Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME serta berakhlak mulia, berkebhinekaan, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif,” kata Saparudin.

Tiga, Survei Lingkungan Belajar untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah. Dijelaskan, Asesmen Nasional pada 2021 dilakukan sebagai pemetaan dasar kualitas pendidikan yang nyata di lapangan.

“Untuk guru asesmen kompetensi minimal (AKM) berupa survei karakter, survei lingkungan belajar. Rencana kegiatannya pendataan di bulan Nopember, asesmen SMP minggu ketiga bulan Maret dan SD minggu kelima bulan Mei,” imbuhnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed