Insitekaltim, Bontang — Beroperasinya proyek revamping Pabrik Amoniak Kaltim 2 PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Kamis, 29 Januari 2026 menandai langkah strategis industri pupuk nasional dalam menyiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.
Bagi sektor pangan, revitalisasi ini bukan sekadar pembaruan fasilitas lama, melainkan fondasi untuk menjaga keberlanjutan pasokan pupuk di tengah tuntutan efisiensi, energi bersih, dan ketahanan pangan jangka panjang.
Peresmian proyek dihadiri Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, serta jajaran pimpinan Pupuk Indonesia dan PKT.
Kehadiran para pemangku kepentingan lintas sektor tersebut menegaskan peran PKT sebagai simpul penting dalam ekosistem pangan nasional.
Pabrik amoniak PKT yang pertama kali beroperasi pada 1984 selama puluhan tahun menjadi tulang punggung produksi pupuk, tidak hanya untuk Kaltim, tetapi juga skala nasional. Seiring bertambahnya usia fasilitas dan meningkatnya tuntutan teknologi, modernisasi menjadi keniscayaan agar industri pupuk tetap kompetitif dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Gubernur Rudy menilai, revamping pabrik ini sebagai investasi jangka panjang, bukan proyek seremonial.
“Yang diperkuat adalah keandalannya. Ini soal memastikan pasokan pupuk tetap aman, efisien, dan siap menjawab kebutuhan masa depan,” ujarnya.
Ia menambahkan, pabrik yang lebih efisien akan berdampak langsung pada stabilitas distribusi pupuk, baik untuk Kaltim maupun wilayah lain. Dalam jangka panjang, hal ini dinilai penting untuk menjaga ritme produksi pertanian nasional.
Dari sisi energi dan lingkungan, revamping Pabrik Amoniak Kaltim 2 membawa perubahan signifikan. Konsumsi gas alam menjadi lebih hemat, sementara emisi berhasil ditekan. Transformasi ini mencerminkan arah baru industri pupuk yang tidak lagi hanya berorientasi pada volume produksi, tetapi juga pada keberlanjutan dan tanggung jawab lingkungan.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto menyebut modernisasi PKT sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional di masa depan. Penurunan konsumsi energi berdampak langsung pada efisiensi biaya produksi sekaligus pengurangan emisi hingga sekitar 110 ribu ton CO₂ ekuivalen per tahun.
“Kami mengapresiasi langkah Pupuk Indonesia dalam menjaga ketersediaan pupuk bagi petani sekaligus menyiapkan industri pupuk yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” kata Titiek Soeharto.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menambahkan, revitalisasi industri pupuk membuka peluang penurunan harga pupuk bersubsidi hingga 20 persen untuk urea dan NPK, dengan tambahan volume pupuk bersubsidi mencapai 700 ribu ton. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah awal menuju sistem subsidi pupuk yang lebih berkelanjutan.
Ia juga mengungkapkan rencana pembangunan tujuh pabrik pupuk baru secara nasional, dengan lima di antaranya ditargetkan rampung sebelum 2029, sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju swasembada pangan.
Peresmian proyek ditandai dengan penekanan tombol sirine dan penandatanganan prasasti sebagai simbol dimulainya operasional pabrik hasil revamping. Hadir pula Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantor, Kajati Kaltim Supardi, Danrem 091/ASN Brigjen TNI Anggara Sitompul, Sultan Kutai Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, serta Wali Kota Bontang Neni Moernaeni.
Dengan beroperasinya pabrik amoniak yang lebih efisien dan berorientasi keberlanjutan, PKT memasuki babak baru: menyiapkan industri pupuk nasional yang tangguh menghadapi masa depan, di mana efisiensi, energi, dan lingkungan menjadi penentu utama ketahanan pangan.

