Insitekaltim, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memasang target berani. Di tengah proyeksi global yang cenderung konservatif, ia yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini bisa menembus 6%.
Angka itu melampaui asumsi dalam RAPBN yang dipatok 5,4%. Lebih tinggi pula dari capaian tahun lalu sebesar 5,11%. Bahkan Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,0 persen, sementara IMF menghitung sekitar 5,1 persen.
Namun Purbaya tak gentar.
“Saya yakin bisa mendorong ke angka 6%,” tegasnya saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Revitalisasi Galangan Kapal dan Pelayaran Indonesia di Ayana MidPlaza Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.
Ia mengklaim, sinyal awal sudah terlihat. Pertumbuhan Januari tercatat 5,39%. Menurutnya, itu bukan sekadar angka statistik, melainkan hasil dari pembenahan ekonomi yang terus dikebut pemerintah.
Kepercayaan publik, lanjutnya, juga meningkat. Tingkat kepuasan terhadap pemerintah dan Presiden Prabowo disebutnya sangat tinggi. Indikasi bahwa kebijakan ekonomi tak berhenti di level makro, tetapi terasa hingga ke masyarakat.
“Walaupun asumsi RAPBN 5,4%, saya tetap optimis 6%,” ulangnya.
Suasana forum sempat mencair ketika Purbaya melempar candaan.
“Kalau tercapai saya akan langsung lapor Pak Presiden. Tapi kalau gagal, saya lapor ke Pak Hashim saja,” ujarnya, merujuk pada Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi sekaligus adik Presiden Prabowo.
Ucapan itu disambut tawa ratusan pelaku industri galangan kapal dan pelayaran yang hadir.
Kredit Digenjot, Likuiditas Dijaga
Salah satu mesin yang hendak dipacu adalah kredit perbankan. Purbaya mengungkapkan, pertumbuhan kredit sempat anjlok hingga nol persen sekitar Agustus tahun lalu. Namun pada akhir 2025 sudah naik menjadi 9 persen, dan Januari ini mencapai 11 persen.
Targetnya tidak main-main, 15 persen. Untuk itu, ia mengaku terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia agar likuiditas tetap terjaga dan perbankan leluasa menyalurkan pembiayaan ke sektor usaha.
“Kami berharap likuiditas ada di pasar, sehingga bank bisa memberikan kredit agar ekonomi tumbuh lebih cepat,” katanya.
Sindir Birokrasi “di Atas Kertas”
Purbaya juga menyinggung problem klasik, yakni kebijakan yang tampak mulus di atas kertas, tapi tersendat di lapangan. Ia mencontohkan berbagai klaim kemudahan dari kementerian teknis seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, yang menurutnya belum sepenuhnya dirasakan pelaku usaha.
“Tapi keluhan pelaku usaha masih kita dengar di sini. Artinya yang di atas kertas dan fakta di lapangan itu tidak sama,” sindirnya, merujuk pada masih adanya praktik-praktik yang menghambat.
Sosok yang sempat disebut Menteri Koboi tersebut menegaskan jika ingin mengejar 6 persen, tidak boleh ada ruang untuk “permainan” di birokrasi. Sinkronisasi kebijakan harus nyata, bukan sekadar laporan.
Purbaya juga menyasar pelaku pasar modal. Ia meminta investor tidak panik menghadapi fluktuasi jangka pendek.
“Yang main saham, jangan buru-buru lari. Bentar juga naik lagi. Kalau investor masuk, Anda juga yang rugi kalau sudah keluar. Jadi jangan cepat-cepat lari,” ujarnya.
Menurutnya, selama fondasi dan outlook ekonomi Indonesia tetap kuat, arus investasi asing akan terus masuk.
Kini pertanyaannya tinggal satu, apakah target 6 persen itu realistis atau sekadar optimisme tinggi? Purbaya sudah pasang taruhan, kalau sukses, ia menghadap Presiden. Kalau meleset, katanya, cukup lapor ke Hashim, adik Presiden Prabowo yang juga punya harapan besar pertumbuhan ekonomi lebih tinggi yakni 8%.

