Insitekaltim, Kutim — Pertanian padi gunung di Desa Long Pejeng, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih bertahan di tengah berbagai tantangan mulai dari cuaca yang tidak menentu, keterbatasan teknologi, hingga minimnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian tradisional tersebut.

Salah satu petani setempat yang meneruskan usaha keluarganya Karnolius mengungkapkan, dirinya telah menjadi petani padi gunung sejak 2013 dan masih menekuni kegiatan tersebut hingga sekarang. Meski telah lebih dari 13 tahun bertani, usaha padi gunung hanya menjadi pekerjaan sampingan yang dilakukan satu kali dalam setahun.
“Kami menjadi petani padi sudah lebih dari 13 tahun, sejak dari tahun 2013 hingga sekarang. Bertani padi ini hanya pekerjaan sampingan tiap tahun, padi ini biasanya hanya satu kali tanam. Pekerjaan utama kami ada di sawit, kakao, dan karet,” ujar Karnolius, saat berkomunikasi WhatsApp, Minggu, 8 Februari 2026.
Ia menjelaskan, secara umum kondisi pertanian padi di Desa Long Pejeng masih berskala kecil. Tidak banyak masyarakat yang menekuni pertanian padi gunung karena sebagian besar memilih sektor pekerkaan kebun yang dinilai lebih menjanjikan.
“Secara umum kondisi pertanian padi di sini masih kecil, hanya beberapa orang saja yang bertani padi,” katanya.
Lebih lanjut, dalam proses produksi pengelolaan lahan hingga panen, petani setempat masih menggunakan alat-alat tradisional. Penggunaan teknologi modern dinilai belum banyak diterapkan, terutama pada tahap penanaman dan pemanenan.
“Petani di sini masih menggunakan alat tradisional pada tahap penanaman hingga panennya,” jelasnya.
Dengan demikian ia mengungkapkan untuk hasil panen tahun ini, petani mengaku mengalami penurunan produksi akibat cuaca yang tidak stabil. Curah hujan yang tinggi menyebabkan banyak tanaman padi rebah sebelum masa panennya.
“Untuk hasil tahun ini menurun karena kondisi cuaca tidak stabil, sering hujan jadi banyak padi yang rebah dan tidak bisa dipanen,” ungkapnya.
Selain itu ia juga menyoroti semakin berkurangnya minat generasi muda untuk menjadi petani. Banyak anak muda memilih bekerja di perusahaan sawit maupun pertambangan batubara yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.
“Untuk sekarang hanya segelintir generasi muda saja yang bertani, karena banyak yang bekerja di perusahaan sawit dan batubara,” tuturnya.
Menjelang mengakhiri ia menyampaikan pesan kepetani setempat untuk berharap hasil panennya padi dapat diolah terlebih dahulu sebelum dijual agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.
“Hasil panen padi sebaiknya diolah dulu, jangan dijual mentah, karena harganya bisa turun. Kalau diolah tentu nilai jualnya lebih baik dan bisa membantu kesejahteraan petani,” pungkasnya.

