Insitekaltim, Samarinda – Penurunan daya beli masyarakat pada Ramadan tahun ini berdampak signifikan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Samarinda.
Salah satunya dirasakan oleh Muhammad Idris, pemilik usaha Lumpia Radja yang telah berjualan selama 14 tahun di kawasan Siradj Salman.
Idris mengungkapkan, penjualan lumpia miliknya mengalami penurunan drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini, menurutnya, menjadi yang terburuk sejak ia mulai berjualan di pasar Ramadan.
“Untuk tahun ini benar-benar tahun yang kurang baik menurut saya selaku pelaku UMKM. Karena pertama, daya beli masyarakat menurun, sangat menurun,” ujar Idris, Rabu, 18 Maret 2026.
Ia menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya, dirinya mampu memproduksi hingga 3.000 lumpia per hari atau setara dengan 25 kilogram bahan. Namun kini, jumlah tersebut turun hampir separuh.
“Saya biasa dalam satu hari bisa menghabiskan 25 kilo untuk 3.000 biji lumpia, tapi saat ini hampir separuh, cuma bisa 700 sampai 800 biji saja per hari,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Idris juga mengaku ia bekerja sama dengan pembagian takjil dengan Dewan Masjid Indonesia yang rutin dilakukan pada Ramadan sebelumnya, namun hampir tidak berjalan tahun ini. Hal itu disebabkan menurunnya jumlah pesanan dari berbagai pihak.
“Saya biasanya bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia untuk membagikan takjil ke masjid-masjid di Samarinda, tapi tahun ini hampir tidak ada sama sekali karena berkurangnya pemesanan,” katanya.
Menurut Idris, kondisi ini tidak hanya dialami dirinya, tetapi juga dirasakan oleh mayoritas pedagang UMKM yang berjualan di pasar Ramadan di sepanjang jalan Siradj Salman ini.
Meski demikian, ia tetap mengapresiasi larangan dan imbauan dari Pemerintah Kota Samarinda yang telah memberikan ruang bagi para pedagang untuk berjualan dengan tertib tanpa mengganggu arus lalu lintas.
“Alhamdulillah kita sudah dimudahkan sama pemerintah kota. Harapan ke depannya tetap diberikan ruang untuk berjualan tanpa ada pungutan liar,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia juga menyebut, praktik pungutan liar sempat terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, namun kini sudah tidak ditemukan lagi berkat pengawasan ketat dari pemerintah.
Selain berjualan, Idris mengaku usaha lumpia yang dijalaninya berawal dari hobi mengisi waktu luang saat Ramadan. Ia tidak membuka usaha tersebut setiap hari, melainkan hanya pada momen tertentu.
“Ini sebenarnya bukan pekerjaan utama saya, ini hobi. Tapi alhamdulillah diminati banyak orang. Saya jualannya hanya di bulan Ramadan saja,” pungkasnya.
