
Insitekaltim, Samarinda – Penurunan angka pengangguran di Kota Samarinda dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan. DPRD Kota Samarinda menyoroti masih adanya ketidaksinkronan antara ketersediaan lapangan kerja dan kesiapan tenaga kerja lokal untuk mengisi peluang tersebut.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Sri Puji Astuti mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Samarinda memang menurun dari 5,7 persen menjadi 5,31 persen. Namun, capaian tersebut dinilai belum menggambarkan persoalan mendasar ketenagakerjaan.
“Secara persentase memang menurun, tetapi tidak pernah dipaparkan secara detail berapa jumlah orang yang benar-benar menganggur. Padahal setiap tahun selalu ada tambahan lulusan dari SMA, SMK, hingga perguruan tinggi,” ungkap Sri Puji, Senin, 2 Maret 2026.
Ia menekankan pentingnya transparansi data terkait kesiapan tenaga kerja lokal dibandingkan dengan ketersediaan lapangan pekerjaan. Berdasarkan informasi yang diterima Komisi IV, terdapat sekitar 2.000 lowongan kerja di Samarinda, namun tidak seluruhnya dapat diisi oleh warga setempat.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan dunia kerja dan minat atau kesiapan pencari kerja lokal. Bahkan, dalam sejumlah kasus, pelamar yang telah dinyatakan lolos seleksi dan wawancara justru mengundurkan diri saat memasuki tahap kerja.
“Lowongan sebenarnya ada, tetapi peminatnya minim. Ada juga yang sudah diterima, lalu mundur karena merasa pekerjaannya tidak sesuai dengan harapan,” jelasnya.
Lanjut Puji, berdampak pada banyaknya posisi kerja yang akhirnya diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah. Ia menilai hal tersebut harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya dalam menyiapkan sumber daya manusia lokal yang lebih siap dan kompetitif.
“Banyak pencari kerja ingin langsung menduduki posisi tertentu, seperti HRD, tanpa mau memulai dari pekerjaan dasar seperti sales. Ini menjadi tantangan besar dalam pembinaan tenaga kerja,” tegasnya.
Ia pun mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk memperkuat program pelatihan keterampilan sekaligus pembentukan mental dan etos kerja, agar penurunan angka pengangguran tidak hanya bersifat statistik, tetapi benar-benar dirasakan masyarakat.
“Yang kita dorong bukan sekadar angka pengangguran turun, melainkan bagaimana tenaga kerja lokal benar-benar terserap di dunia kerja,” pungkasnya.
