Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Sukri Dorong Penguatan Literasi Jurnalistik di OPD, Tekankan Pentingnya Verifikasi Informasi

    April 15, 2026

    Isu Kepesertaan Menguat, Kadinkes Samarinda Minta Publik Pahami Batas Kewenangan

    April 15, 2026

    Perdana Digelar, BPSDM Kaltim Tingkatkan Kompetensi ASN di Bidang Penulisan dan Publikasi

    April 15, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Hukum
    • Tokoh
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Minuman Zero Sugar Kian Populer, Dokter Tirta: Lebih Aman, Tapi Bukan Tanpa Risiko
    Kesehatan

    Minuman Zero Sugar Kian Populer, Dokter Tirta: Lebih Aman, Tapi Bukan Tanpa Risiko

    RidhoBy RidhoFebruari 20, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Sesi Edukasi Dokter Tirta di YouTube (Screenshot YouTube)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Samarinda — Tren minuman berlabel sugar free atau bebas gula terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya konsumsi gula berlebih. Meski dinilai lebih aman dibandingkan gula tambahan, produk bebas gula tetap menyimpan risiko kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

    Hal tersebut disampaikan Dokter Tirta dalam sesi edukasi mengenai pola konsumsi gula dan pemanis buatan yang diunggah melalui kanal YouTube Tirta PengPengPeng, Jumat, 20 Februari 2026.

    Dokter Tirta menjelaskan, meningkatnya kritik global terhadap konsumsi gula, khususnya pada minuman bersoda, mendorong produsen menghadirkan varian zero sugar dengan mengganti gula menggunakan pemanis buatan.

    “Ketika masyarakat dunia makin sadar bahaya gula, produsen merespons dengan produk sugar free. Tapi perlu dipahami, bebas gula bukan berarti tanpa pemanis. Tetap ada zat tambahan seperti stevia atau aspartam,” ujarnya.

    Menurutnya, minuman bebas gula memang memiliki kalori lebih rendah karena tidak mengandung gula tambahan. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis menjadikan sepenuhnya aman bagi tubuh.

    “Kalorinya kosong, tapi pemanisnya tetap ada. Apakah aman? Tidak 100 persen. Konsumsi pemanis buatan secara berlebihan masih berpotensi menimbulkan resistensi insulin, meskipun risikonya lebih kecil dibandingkan gula biasa,” jelasnya.

    Ia menilai pemanis buatan dapat menjadi solusi sementara bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula. Namun, langkah paling aman adalah membiasakan diri mengurangi rasa manis secara keseluruhan.

    “Pilihan terbaik sebenarnya membiasakan rasa tawar. Zero sugar tidak lebih berbahaya dari gula, tapi juga bukan berarti sepenuhnya aman,” katanya.

    Dokter Tirta juga mengingatkan bahwa tubuh tetap memerlukan gula sebagai sumber energi, terutama bagi individu dengan aktivitas fisik tinggi seperti pekerja lapangan, pengemudi ojek, atau mereka yang rutin berolahraga.

    “Tubuh tetap butuh gula. Jangan sampai terjebak gimik pemasaran. Stevia memang lebih aman dibanding gula, tapi kalau berlebihan tetap tidak baik. Jadikan pemanis pengganti sebagai fase transisi menuju pola makan rendah gula,” ujarnya.

    Menutup penyampaiannya, ia menegaskan bahwa pembatasan gula tidak akan berdampak signifikan jika asupan karbohidrat sederhana masih berlebihan.

    “Kalau gula dikurangi tapi nasi dimakan berlebihan, hasilnya tetap sama. Kuncinya ada pada keseimbangan,” pungkasnya.

     

    Dokter Tirta Edukasi Kesehatan Konsumsi Gula Pemanis Buatan
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ridho

    Related Posts

    Camat Samarinda Ulu Dukung Perda TBC, Soroti Pentingnya Jaminan Sosial bagi Penderita

    April 14, 2026

    Kasus TBC Samarinda Tembus 4.000, Dinkes Genjot Deteksi Dini di Tengah Keterbatasan Anggaran

    April 13, 2026

    Target Eliminasi 2030, Penanganan TBC dan HIV/AIDS di Samarinda Perlu Kolaborasi

    April 13, 2026

    Kasus TBC Masih Tinggi, Pemkot Samarinda Siapkan Perda Penanggulangan

    April 13, 2026

    Dinkes Samarinda Sebut Sosialisasi Provinsi Sekadar Informasi, Tegaskan Sikap Pemkot Jelas

    April 12, 2026

    TWAP Samarinda Tanggapi Sudarno, Tegaskan Pernyataan Andi Harun Soal JKN Bukan Hoaks

    April 11, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Sukri Dorong Penguatan Literasi Jurnalistik di OPD, Tekankan Pentingnya Verifikasi Informasi

    Andika SaputraApril 15, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kalimantan Timur (Kaltim) Mohammad Sukri mengapresiasi…

    Isu Kepesertaan Menguat, Kadinkes Samarinda Minta Publik Pahami Batas Kewenangan

    April 15, 2026

    Perdana Digelar, BPSDM Kaltim Tingkatkan Kompetensi ASN di Bidang Penulisan dan Publikasi

    April 15, 2026

    Andi Harun Tegaskan Samarinda Mampu Bayar Tapi Secara Hukum Tidak Benar

    April 14, 2026

    DPRD Samarinda dan Bontang Bahas Strategi Tingkatkan Pendapatan di Tengah Tekanan Fiskal

    April 14, 2026
    1 2 3 … 3,057 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.