Insitekaltim, Samarinda — Tren minuman berlabel sugar free atau bebas gula terus meningkat seiring tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya konsumsi gula berlebih. Meski dinilai lebih aman dibandingkan gula tambahan, produk bebas gula tetap menyimpan risiko kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.
Hal tersebut disampaikan Dokter Tirta dalam sesi edukasi mengenai pola konsumsi gula dan pemanis buatan yang diunggah melalui kanal YouTube Tirta PengPengPeng, Jumat, 20 Februari 2026.
Dokter Tirta menjelaskan, meningkatnya kritik global terhadap konsumsi gula, khususnya pada minuman bersoda, mendorong produsen menghadirkan varian zero sugar dengan mengganti gula menggunakan pemanis buatan.
“Ketika masyarakat dunia makin sadar bahaya gula, produsen merespons dengan produk sugar free. Tapi perlu dipahami, bebas gula bukan berarti tanpa pemanis. Tetap ada zat tambahan seperti stevia atau aspartam,” ujarnya.
Menurutnya, minuman bebas gula memang memiliki kalori lebih rendah karena tidak mengandung gula tambahan. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis menjadikan sepenuhnya aman bagi tubuh.
“Kalorinya kosong, tapi pemanisnya tetap ada. Apakah aman? Tidak 100 persen. Konsumsi pemanis buatan secara berlebihan masih berpotensi menimbulkan resistensi insulin, meskipun risikonya lebih kecil dibandingkan gula biasa,” jelasnya.
Ia menilai pemanis buatan dapat menjadi solusi sementara bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula. Namun, langkah paling aman adalah membiasakan diri mengurangi rasa manis secara keseluruhan.
“Pilihan terbaik sebenarnya membiasakan rasa tawar. Zero sugar tidak lebih berbahaya dari gula, tapi juga bukan berarti sepenuhnya aman,” katanya.
Dokter Tirta juga mengingatkan bahwa tubuh tetap memerlukan gula sebagai sumber energi, terutama bagi individu dengan aktivitas fisik tinggi seperti pekerja lapangan, pengemudi ojek, atau mereka yang rutin berolahraga.
“Tubuh tetap butuh gula. Jangan sampai terjebak gimik pemasaran. Stevia memang lebih aman dibanding gula, tapi kalau berlebihan tetap tidak baik. Jadikan pemanis pengganti sebagai fase transisi menuju pola makan rendah gula,” ujarnya.
Menutup penyampaiannya, ia menegaskan bahwa pembatasan gula tidak akan berdampak signifikan jika asupan karbohidrat sederhana masih berlebihan.
“Kalau gula dikurangi tapi nasi dimakan berlebihan, hasilnya tetap sama. Kuncinya ada pada keseimbangan,” pungkasnya.
