Insitekaltim, Kukar — Petani di Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai memanfaatkan mesin combine harvester dalam proses panen padi. Penggunaan teknologi tersebut dinilai mampu mempercepat waktu panen sekaligus menekan biaya produksi, terutama saat musim panen bertepatan dengan bulan puasa.
Pemanenan padi dengan mesin modern itu berlangsung di area persawahan warga Desa Loh Sumber, Jumat, 20 Februari 2026.

Salah satu petani setempat, Tiong atau yang akrab disapa Tio mengatakan, penggunaan mesin panen sangat membantu petani karena mampu mempersingkat waktu kerja dibandingkan metode manual.
“Kalau pakai mesin, satu hektare bisa selesai dalam beberapa jam. Kalau manual bisa satu sampai dua hari, apalagi saat puasa, kadang lebih lama karena keterbatasan tenaga,” ujarnya.
Menurut Tio, penggunaan combine harvester juga dapat mengurangi kehilangan hasil panen karena gabah langsung dipisahkan dari batang padi di lokasi. Selain itu, biaya tenaga kerja menjadi lebih efisien karena tidak membutuhkan banyak buruh panen.
“Dari sisi biaya jelas lebih hemat. Kami juga tidak kesulitan mencari tenaga kerja karena sekarang memang terbatas,” katanya.
Ia menambahkan, pemanenan dilakukan ketika usia tanaman padi telah mencapai masa panen, yakni sekitar 90 hingga 120 hari setelah tanam, tergantung kondisi cuaca. Saat ini, sebagian besar lahan persawahan di Loa Kulu memasuki masa panen serentak sehingga petani memanfaatkan cuaca cerah agar kualitas gabah tetap terjaga.
Mesin combine harvester sendiri bekerja dengan memotong, merontokkan, dan membersihkan gabah dalam satu proses. Hasil panen kemudian langsung dimasukkan ke dalam karung untuk selanjutnya dijemur sebelum dijual ke pengepul atau dibawa ke penggilingan padi.
Tio berharap dukungan alat dan sarana pertanian dari berbagai pihak terus ditingkatkan guna mendukung produktivitas petani di wilayah tersebut.
“Kami berharap bantuan alat pertanian seperti ini terus ada, supaya hasil panen meningkat dan kesejahteraan petani juga lebih baik,” tutupnya.
Pemanfaatan teknologi pertanian modern ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas padi di Loa Kulu sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.
