Insitekaltim, Kukar — Umat Islam diingatkan untuk memaknai bulan suci Ramadan tidak sekadar sebagai momentum menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai kesempatan memperbaiki diri serta meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan Khotib Salat Jumat Ahmad Syahrani di salah satu masjid Al Hikmah di Kecamatan Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Dalam ceramahnya, ia mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, termasuk kesempatan kembali bertemu dengan bulan Ramadan tahun ini.
“Marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Salah satu nikmat terbesar adalah masih dipertemukan dengan bulan Ramadan,” ujar Syahrani saat Khotbah salat, Jumat, 20 Februari 2026.
Ia menekankan, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk kembali merasakan suasana Ramadan. Karena itu, momen ini harus dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah dan memperbaiki akhlak.
Menurutnya, Ramadan memiliki tiga fase utama sebagaimana disebutkan dalam hadis, yakni awal sebagai rahmat, pertengahan sebagai ampunan (magfirah), dan akhir sebagai pembebasan dari api neraka.
Oleh sebab itu, umat Islam diminta memaksimalkan setiap fase dengan meningkatkan kualitas ibadah, baik salat, sedekah, membaca Al-Qur’an, maupun memperbaiki hubungan sosial.
“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi bagaimana hati kita menjadi lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan menjalani Ramadan dapat dilihat dari perubahan sikap dan perilaku setelah bulan suci berakhir. Orang yang beruntung di bulan Ramadan, lanjutnya, adalah mereka yang hatinya menjadi lebih bersih dan memiliki komitmen untuk terus berbuat kebaikan.
“Orang yang beruntung di bulan Ramadan adalah yang mampu menjadikan hatinya lebih baik dan terus memperbaiki diri,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, jamaah diajak untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin agar dapat menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan.
Ia berharap Ramadan menjadi momentum penyelamatan diri dari perbuatan buruk dan meningkatkan kualitas ketakwaan.
“Kita siapkan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa,” pungkasnya.
