Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Pemprov Kaltim Siapkan 250 Hektare Lahan di Teluk Balikpapan Guna Tambah PAD

    Agustus 8, 2026

    RS Primecare Samarinda Resmi Beroperasi, 95 Persen Tenaga Kerja Warga Lokal

    Agustus 8, 2026

    Politik Tak Cukup Andalkan Momentum Pemilu, Kepercayaan Publik Harus Dibangun

    Agustus 8, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Advertorial»DPRD Bontang»Kasus Stunting di Bontang Lestari Tertinggi, Pernikahan Dini Diduga Jadi Pemicu
    DPRD Bontang

    Kasus Stunting di Bontang Lestari Tertinggi, Pernikahan Dini Diduga Jadi Pemicu

    SittiBy SittiOktober 30, 202402 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Anggota Komisi A DPRD Kota Bontang Muhammad Yusuf
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Bontang – Kasus stunting di Kelurahan Bontang Lestari mencatat angka tertinggi di Kota Bontang mencapai 35 persen, di atas rata-rata wilayah lainnya. Salah satu faktor utama yang diduga memicu tingginya angka stunting ini adalah banyaknya pernikahan dini di wilayah tersebut.

    Pernikahan di usia muda, yang kerap kali berakhir dengan perceraian, diduga berdampak langsung pada kesehatan dan pertumbuhan anak-anak mereka.

    Anggota Komisi A DPRD Kota Bontang Muhammad Yusuf menyampaikan bahwa permasalahan stunting ini tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Untuk menekan angka stunting di Bontang, perlu adanya keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemerintah, tokoh agama, hingga masyarakat.

    “Seluruh pihak harus terlibat dalam hal ini. Pemerintah dan tokoh agama juga harus ada di situ. Tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja; semua harus berbaur,” ujar Yusuf, Senin (28/10/2024).

    Yusuf menjelaskan bahwa praktik pernikahan di bawah umur masih sering terjadi di Bontang Lestari, meskipun sudah ada aturan yang melarang pernikahan di bawah usia 17 tahun. Beberapa keluarga bahkan tetap memberikan izin kepada anak-anak mereka untuk menikah di usia muda melalui pengecualian tertentu atau dengan menikah siri lebih dulu.

    “Aturannya jelas, sekarang tidak boleh menikah di bawah 17 tahun. Tapi kalau misalnya kelurahan memberi izin, ada pengecualian untuk menikah siri dulu. Nanti, kalau sudah di atas 17 tahun, baru ikut nikah massal,” ungkap Yusuf.

    Pernikahan di usia muda ini, lanjut Yusuf sering kali menimbulkan berbagai permasalahan, termasuk kondisi ekonomi yang belum stabil, sehingga anak-anak dari pasangan muda ini sering menjadi korban. Keadaan inilah yang turut berkontribusi terhadap tingginya angka stunting di wilayah Bontang Lestari.

    “Nikah dini di usia 12 tahun, misalnya, dengan kondisi ekonomi yang belum siap, imbasnya pasti ke anak. Kasihan si bayi, dia tidak bersalah,” tambahnya.

    Yusuf mendorong tokoh agama di Bontang untuk ikut ambil bagian dalam mengedukasi masyarakat tentang bahaya pernikahan dini. Ia menyampaikan bahwa tokoh agama dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam kepada masyarakat mengenai dampak buruk pernikahan dini, baik dari sisi agama maupun kesehatan.

    “Kalau terkait dengan menikah muda, peran ustaz sangat penting untuk menjelaskan dampak negatifnya. Kita juga tidak bisa melarang, tapi kita bisa memberi pemahaman,” kata Yusuf.

    Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat, Yusuf berharap tercipta lingkungan yang lebih mendukung kesehatan anak-anak dan menurunkan angka stunting di Bontang Lestari. Pemahaman masyarakat mengenai dampak pernikahan dini dapat menjadi langkah awal dalam mengatasi stunting yang masih menjadi tantangan besar di daerah tersebut.

    DPRD Bontang Muhammad Yusuf Pernikahan Dini Stunting
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Sitti

    Related Posts

    BKKBN Kaltim Perkuat Intervensi Non-Nutrisi untuk Tekan Stunting

    Juli 20, 2026

    Lampaui Target Nasional, Stunting di Samarinda Turun Jadi 17,13 Persen

    Juli 14, 2026

    Program MBG Belum Bisa Jadi Tolok Ukur Penurunan Stunting di Samarinda

    Juli 13, 2026

    Cegah Anak Stunting, Kini Periksa Kehamilan Wajib Delapan Kali

    Juli 12, 2026

    Inisiasi Menyusu Dini, Intervensi Tepat Dukung Pertumbuhan Bayi Juga Stunting

    Juli 3, 2026

    Stunting Samarinda Sudah di Bawah Nasional, DPPKB: Tantangan Terbesar Perubahan Perilaku

    Juli 2, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Pemprov Kaltim Siapkan 250 Hektare Lahan di Teluk Balikpapan Guna Tambah PAD

    R’syaAgustus 8, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud mengatakan lahan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov)…

    RS Primecare Samarinda Resmi Beroperasi, 95 Persen Tenaga Kerja Warga Lokal

    Agustus 8, 2026

    Politik Tak Cukup Andalkan Momentum Pemilu, Kepercayaan Publik Harus Dibangun

    Agustus 8, 2026

    Tak Harus Serba Merah-Putih, Begini Cara Tampil Stylish Saat 17-an

    Agustus 8, 2026

    Andi Harun Dorong Pilkada Samarinda Tanpa Politik Uang, Utamakan Kualitas dan Integritas

    Agustus 8, 2026
    1 2 3 … 3,266 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.