Insitekaltim, Samarinda – Usaha sarung tenun khas Samarinda terus bertahan sebagai warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat di kawasan Samarinda Seberang, Kota Samarinda
Owner Rumah Sarung Tenun Fatmawati mengungkapkan, dirinya melanjutkan usaha keluarga yang telah ada sejak sebelum dirinya lahir pada 1968, di rumah yang kini juga termasuk bangunan cagar budaya.
“Saya ini meneruskan usaha orang tua. Dari dulu memang keluarga kami sudah menenun di sini,” ujarnya saat diwawancara, Selasa 31 Maret 2026.
Dalam produksinya berbagai motif khas tetap dipertahankan, seperti balo hatta, belang negara, hingga pucuk rebung. Selain itu ia juga mengembangkan motif baru dengan pewarna alami.
“Sekarang ada juga motif dengan pewarna alami dari indigo dan serat kulit, supaya lebih ramah lingkungan,” jelasnya.
Harga sarung tenun bervariasi mulai dari Rp350 ribu hingga Rp1,5 juta per lembar tergantung motif, tingkat kerumitan, serta jenis pewarna yang digunakan.
Menurutnya bahan baku benang masih didatangkan dari luar daerah karena kondisi cuaca lokal yang tidak menentu menyulitkan produksi bahan secara mandiri.
Meski demikian regenerasi pengrajin terus diupayakan. Ia menyebut generasi muda tetap disiapkan sebagai penerus meski proses belajar menenun membutuhkan waktu dan ketekunan.
“Belajar menenun itu tidak mudah saya sendiri dulu butuh sekitar tiga bulan baru bisa,” katanya.
Dari sisi pemasaran produk sarung tenun Samarinda telah menjangkau berbagai daerah, bahkan hingga luar negeri seperti Brunei dan Malaysia. Wisatawan mancanegara juga kerap datang langsung untuk membeli.
“Kalau orang Brunei itu biasanya kalau liburan pasti ke sini, karena mereka suka sarung tenun,” ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga aktif mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri, termasuk hingga Yordania melalui fasilitasi pemerintah.
Selain pasar umum produk tenun ini juga diminati kalangan pejabat. Ia menyebut sejumlah tokoh nasional termasuk istri Jusuf Kalla dan pejabat kementerian, pernah membeli produknya.
Dalam perjalanannya usaha ini juga mendapat pembinaan dari Bank Indonesia, yang turut membantu peningkatan kapasitas melalui pelatihan dan promosi.
Namun demikian ia mengakui produksi dan penjualan masih sangat dipengaruhi kondisi ekonomi, terutama sektor tambang dan perkebunan yang menjadi pasar utama.
“Kalau ekonomi tambang naik, biasanya penjualan kami juga ikut naik. Tapi kalau turun, kami juga ikut terdampak,” jelasnya.
Ia menegaskan kunci bertahan dalam usaha tenun adalah semangat dan konsistensi dalam menjaga kualitas serta budaya yang diwariskan.
“Kalau tidak semangat, walaupun ada modal, usaha ini tidak akan jalan,” pungkasnya.

