Insitekaltim, Aceh Tamiang — Banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang bukan hanya meninggalkan puing rumah dan lumpur yang mengeras, tetapi juga kelelahan panjang bagi para penyintas. Di tengah keterbatasan pangan, rusaknya fasilitas umum, serta trauma yang membekas, uluran tangan dari luar daerah menjadi penopang utama agar kehidupan bisa terus berjalan.
Sejak sepekan terakhir, Tim Relawan Kaltim Peduli Bencana hadir di sejumlah titik terdampak paling parah. Tanpa sorotan berlebihan, mereka bekerja dari pagi hingga larut malam menyiapkan makanan, membersihkan fasilitas umum, memberikan layanan kesehatan, hingga mendampingi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Setiap harinya, dapur umum relawan memproduksi sekitar 6.000 nasi bungkus. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan jawaban atas kebutuhan mendesak warga yang bahkan untuk memasak pun tak lagi memiliki peralatan.
“Kami bahkan tidak mampu menyiapkan makanan,” ujar seorang penyintas dengan suara bergetar saat menerima bantuan di posko masyarakat Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Selasa, 23 Desember 2025.
“Terima kasih kepada masyarakat dan Pemprov Kaltim yang telah membantu kami. Hanya Allah yang bisa membalas semua kebaikan ini.” imbuhnya.
Selain logistik, relawan juga memberikan layanan dukungan psikososial, terutama bagi anak-anak yang menjadi saksi langsung kedahsyatan banjir bandang. Masjid dan sekolah yang biasa menjadi ruang aman kini terendam, memaksa anak-anak memahami kehilangan lebih cepat dari seharusnya.
“Dalam, sampai atap,” ucap polos seorang anak saat menceritakan ketinggian air kepada relawan. Kalimat singkat yang mencerminkan betapa bencana itu meninggalkan jejak trauma yang mendalam.
Ketua Tim Relawan Kaltim Peduli Bencana Sugeng Priyanto mengatakan, sejak tiba di Aceh Tamiang, relawan bergerak di berbagai sektor kemanusiaan. Mulai dari dapur umum, pembersihan fasilitas umum, layanan kesehatan, hingga evakuasi warga sakit ke puskesmas terdekat.
“Kami bekerja semaksimal mungkin dengan kondisi yang ada. Kadang tanpa penerangan dan transportasi yang memadai, tapi kebutuhan warga jauh lebih mendesak,” ungkapnya.
Di tengah segala keterbatasan, kerja-kerja kemanusiaan itu menjadi bukti bahwa bencana tak selalu hanya menghadirkan duka. Solidaritas lintas daerah tumbuh, menyatukan empati dari Kaltim untuk Aceh Tamiang.
Air bah memang telah surut, namun pemulihan masih panjang. Di sela lumpur dan puing, kehadiran relawan menjadi penanda bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang ia hanya menunggu untuk kembali dikuatkan bersama.

