
Insitekaltim, Samarinda – Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda Ismail Latisi memberikan perhatian serius terhadap penanganan kasus stunting, khususnya di wilayah Samarinda Ilir.
Ia menegaskan bahwa stunting bukanlah sekadar permasalahan kesehatan di tingkat lokal, melainkan isu krusial berskala nasional yang memerlukan komitmen penuh dari pemerintah pusat hingga ke level akar rumput.
Dalam keterangannya pada Kamis, 5 Februari 2026, Latisi mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda yang telah berhasil menurunkan angka stunting tahun ini.
Meski demikian, ia mencatat penurunan tersebut masih tergolong kecil. Ia berharap ke depannya ada akselerasi program yang lebih kuat agar penurunan angka stunting di Samarinda bisa terjadi secara signifikan dan menyentuh target yang diharapkan.
Latisi menggarisbawahi bahwa akar masalah stunting sering kali berkelindan dengan kondisi ekonomi keluarga. Rendahnya daya beli berdampak langsung pada ketidakmampuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi kronis anak.
Untuk memutus rantai tersebut, ia mengusulkan penguatan sistem pemantauan yang dimulai dari tingkat terendah, yaitu Rukun Tetangga (RT).
“Sistem pelaporan berjenjang sangat penting. Jika di tingkat RT sudah terdeteksi ada keluarga yang berisiko secara ekonomi dan gizi, pemerintah bisa segera mengintervensi sebelum kondisi anak memburuk,” jelasnya.
Lebih lanjut, politisi ini menekankan bahwa beban penanganan stunting tidak boleh hanya dipikul oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (B2KB).
Ia mendorong adanya keroyokan program atau kolaborasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), termasuk Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial.
Di tengah adanya kebijakan efisiensi anggaran di pemerintah daerah, Latisi mengingatkan agar sektor pelayanan dasar tidak dikorbankan. Menurutnya, investasi pada kesehatan anak adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Samarinda.
“Mengobati stunting itu berat, tapi mencegahnya jauh lebih mudah. Karena itu prioritas kita seharusnya adalah pencegahan. Ini harus menjadi kerja bersama lintas OPD. Kalau kolaborasi berjalan, potensi menurunkan angka stunting di Samarinda akan jauh lebih besar,” tambahnya.
Melalui upaya yang terintegrasi, Latisi optimis Samarinda dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam keberhasilan menekan angka stunting, yang pada akhirnya akan menjadi prestasi membanggakan bagi pemerintah kota.

