Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    PUPR Kaltim Sepakat Cabut Patok di Lahan Warga Jalan Kurnia Makmur dan Blitar

    Oktober 5, 2026

    Mahasiswa Dorong Perpustakaan Samarinda Tingkatkan Fasilitas sebagai Ruang Belajar

    Oktober 5, 2026

    BIFF 2026 Jadi Panggung Regenerasi Desainer Muda dan Penggerak Ekonomi Kreatif Kaltim

    Oktober 5, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Pariwisata»Menukar Lelah dengan Sunrise dan Sunset di Puncak Bukit Biru Tenggarong
    Pariwisata

    Menukar Lelah dengan Sunrise dan Sunset di Puncak Bukit Biru Tenggarong

    R’syaBy R’syaAgustus 17, 2026Updated:Oktober 5, 202603 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Panorama dari Puncak Bukit Biru di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pemandangan dari ketinggian menjadi salah satu daya tarik wisata ini (Insitekaltim/R’sya)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Kukar – Mengejar matahari terbit atau terbenam dari atas bukit memang terdengar sederhana. Namun, di Puncak Bukit Biru, Tenggarong, Kutai Kartanegara, pemandangan itu harus ditebus dengan perjalanan yang cukup menguras tenaga.

    Berada di perbatasan Kelurahan Bukit Biru, Tenggarong, dan Desa Sumber Sari, Loa Kulu, Kalimantan Timur, destinasi ini memiliki ketinggian sekitar 635 meter di atas permukaan laut (mdpl).

    Untuk mencapai titik atas, pengunjung harus berjalan kaki dari area bawah. Jalur diawali dengan jalan berpaving, kemudian berlanjut melewati tangga-tangga kecil sebelum mulai menanjak.

    Di sejumlah titik, tersedia tali tambang untuk membantu pengunjung melewati jalur. Ada pula dua tanjakan yang cukup curam sehingga perlu dilewati dengan hati-hati.

    Beberapa bagian jalur juga cukup sempit. Pengunjung yang hendak naik dan turun terkadang harus bergantian, terutama ketika melewati bagian yang membutuhkan tali tambang. Jika sedang ramai, antrean pun bisa terjadi.

    Saat cuaca tidak hujan, jalur cenderung berdebu. Waktu tempuh bergantung pada kecepatan berjalan dan frekuensi beristirahat. Jika berjalan cepat tanpa banyak berhenti, perjalanan bisa ditempuh kurang dari satu jam. Sementara dengan tempo santai dan beberapa kali beristirahat, waktunya bisa lebih dari satu jam.

    Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, jalur tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri. Namun, sesampainya di atas, rasa lelah terbayar dengan pemandangan dan angin yang cukup terasa.

    Eca, pengunjung asal Samarinda menjadi salah satu yang mencoba Bukit Biru untuk pertama kalinya. Ia datang bersama enam temannya untuk mencari suasana baru sekaligus refreshing.

    Rombongan Eca berangkat sekitar pukul 15.00 Wita dan tiba sekitar pukul 16.30 Wita setelah sempat tersesat karena mengandalkan aplikasi peta.

    “Baru pertama kali ke sini. Berangkat jam tiga, sampai sekitar setengah lima karena sempat tersesat juga dan mengandalkan Maps. Pemandangannya indah, banyak angin. Kami datang ramean, totalnya bertujuh sama teman karena mau coba dan memang pengen ngalam sekaligus refreshing,” ujarnya usai mendaki di Bukit Biru, Minggu, 16 Agustus 2026.

    Menurutnya, bagian yang paling membuat waswas adalah ketika jalur mulai menanjak.

    “Yang bikin serem pas naiknya. Dua kali tanjakan di atas itu cukup curam dan agak datar jadi ngeri. Kalau untuk turunnya rasanya lebih gampang,” kisahnya.

    Datang menjelang sore untuk mengejar sunset, Eca dan rombongannya mendapati area atas sudah ramai. Pengunjung datang dalam berbagai rombongan, mulai dari bersama teman, pasangan hingga keluarga.

    Area yang relatif tidak luas membuat titik atas semakin padat ketika sore menjelang sunset. Mereka yang datang perlu berbagi ruang untuk menikmati pemandangan maupun mengambil foto.

    Namun, Bukit Biru bukan hanya tujuan bagi pemburu sunset. Sejumlah pengunjung juga datang sejak subuh untuk mengejar sunrise.

    Artinya, pengunjung bisa memilih momen yang ingin dinikmati. Pagi hari menawarkan suasana matahari terbit, sedangkan sore menjadi waktu bagi mereka yang ingin menunggu matahari terbenam. Hanya saja, bagi pemburu sunset, kondisi yang ramai perlu menjadi pertimbangan.

    Di area bawah, tersedia sejumlah fasilitas seperti gazebo, toilet, tempat berjualan hingga penginapan. Tiket masuk dibanderol Rp5 ribu per orang, sedangkan parkir sepeda motor tidak dikenakan biaya.

    Dengan jalur yang cukup menantang, pengunjung sebaiknya menggunakan alas kaki yang nyaman dan tetap berhati-hati, terutama ketika melewati bagian curam maupun jalur yang mengharuskan bergantian dengan pengunjung lain.

    Bagi Eca, lelah selama perjalanan justru menjadi bagian dari pengalaman pertamanya.

    “Capek banget, tapi seru. Apalagi bisa foto-foto juga,” ucapnya.

    Pada akhirnya, daya tarik Bukit Biru bukan hanya apa yang terlihat dari atas. Perjalanan menuju ke sana, tanjakan, debu, angin hingga suasana ramai menjadi bagian dari pengalaman sebelum akhirnya pengunjung bisa duduk menikmati langit dari ketinggian.

     

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    R’sya

    Related Posts

    Kuliner Tradisional Kaltim Didorong Jadi Daya Tarik Wisata, dari Nasi Bekepor hingga Sambal Raja

    September 30, 2026

    Mahakam Mask Carnival Jadi Ruang Belajar Seni dan Budaya Nusantara

    September 28, 2026

    Baru Dibuka, Fasilitas Teras Samarinda Tahap II Sudah Ada yang Hilang

    Agustus 31, 2026

    Dikejar Keterbatasan Anggaran, Samarinda Genjot Pariwisata Lewat Branding dan Inovasi

    Maret 31, 2026

    Pemprov Kaltim Dorong Pengembangan Desa Wisata, Kampung Tenun Samarinda Jadi Percontohan

    Maret 31, 2026

    Pantai Pemedas Diserbu Wisatawan, Warga Sanga-Sanga Manfaatkan Libur Lebaran

    Maret 25, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    PUPR Kaltim Sepakat Cabut Patok di Lahan Warga Jalan Kurnia Makmur dan Blitar

    AminahOktober 5, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Pemasangan patok batas jalan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR)…

    Mahasiswa Dorong Perpustakaan Samarinda Tingkatkan Fasilitas sebagai Ruang Belajar

    Oktober 5, 2026

    BIFF 2026 Jadi Panggung Regenerasi Desainer Muda dan Penggerak Ekonomi Kreatif Kaltim

    Oktober 5, 2026

    HUT ke-81 TNI, Prajurit Diminta Tak Hanya Kuasai Alutsista tapi Juga Taat Hukum

    Oktober 5, 2026

    Seluruh Buaya Muara di Taman Satwa Palaran Direlokasi, Kolam Kini Kosong

    Oktober 5, 2026
    1 2 3 … 3,374 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.