Insitekaltim, Samarinda – Banyak orang tua dan anak muda di Indonesia masih menganggap beberapa jurusan kuliah tertentu sebagai jalur aman menuju masa depan sukses. Masuk jurusan ini gengsinya tinggi, peminatnya jutaan, dan selalu menjadi rebutan di jalur masuk perguruan tinggi.
Namun, sebuah keputusan ekstrem dari negeri tirai bambu yang baru-baru ini disorot tajam oleh tokoh publik Indonesia seharusnya membuat kita semua terhenyak dan mulai berkaca.
Pemerintah China baru saja mengambil langkah radikal dengan resmi menghapus sekitar 12.200 program studi (prodi) di berbagai universitas mereka. Alasan di baliknya sangat menampar realitas, jurusan-jurusan tersebut dianggap sudah usang, tidak berguna di dunia kerja masa depan, dan dicap sebagai pencetak pengangguran baru karena tidak lagi bisa menjawab tantangan kesempatan kerja.
Ironisnya, jurusan-jurusan yang dibuang dan dimusnahkan oleh China ini adalah jurusan kuliah yang justru menjadi favorit nomor satu dan dipuja-puja oleh masyarakat Indonesia.
Kiamat Jurusan Akuntansi dan Manajemen
Jika di Indonesia jurusan Manajemen, Akuntansi, hingga Administrasi selalu penuh sesak oleh pendaftar, di China jurusan-jurusan ini justru sedang digulung massal.
Fenomena ini bahkan memantik perhatian serius dari tokoh daerah di Indonesia, Wali Kota Samarinda Andi Harun blak-blakan menyoroti bagaimana China tidak tanggung-tanggung mematikan jurusan favorit tersebut secara paksa.
“Bahkan termasuk akuntansi itu dihapus, karena menurut mereka artificial intelligence (AI) itu jauh lebih presisi. Jauh lebih akurat hasilnya ketika diminta sebagai tugas untuk memeriksa. Nah, ini tantangan buat kita semua,” ungkap Andi Harun dalam pembukaan Mahakam Job Fair 2026.
Kementerian Pendidikan China menilai fungsi-fungsi dasar dalam bidang manajemen kantoran, administrasi, hingga akuntansi kini sudah sangat rapuh. Semua pekerjaan di sektor tersebut terbukti bisa digantikan dengan mudah, cepat, dan murah oleh teknologi Kecerdasan Buatan tingkat lanjut.
China tidak mau membuang-buang anggaran negara dan waktu generasi muda mereka untuk mempelajari keahlian yang sebentar lagi punah.
Jangan Cuma Mengandalkan Ijazah dan Budaya Menghafal
Langkah ekstrem China ini menjadi alarm gawat sekaligus harapan baru bagi masyarakat Indonesia. Saat ini, dunia kerja tidak lagi sekadar melihat lembar ijazah tinggi, melainkan bukti keterampilan nyata.
Siapa pun yang berbekal ijazah S1, S2, bahkan S3, akan tetap kewalahan mencari kerja jika keterampilannya tidak mendukung kemajuan teknologi informasi dan kebutuhan zaman.
Sebaliknya, ini menjadi harapan besar bagi masyarakat yang mungkin pendidikannya hanya sampai tingkat menengah. Kuncinya ada pada kemauan untuk mengambil kursus-kursus pendek (short course), melatih keterampilan, dan menggunakan gadget sebagai alat meningkatkan kompetensi, bukan cuma dipakai untuk scroll media sosial.
Di sisi lain, dunia pendidikan Indonesia juga harus berbenah dari akar. Sistem pendidikan yang selama ini masih mengandalkan hafalan dinilai bakal menjadi penghambat besar di masa depan.
Menghafal memang perlu, tetapi memahami substansi dan menguasai bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) jauh lebih utama untuk menghadapi dominasi robot dan AI.
Bersiap Sebelum Resonansinya Sampai ke Daerah Kita
Dampak dari disrupsi AI ini mungkin belum sepenuhnya terasa di seluruh pelosok daerah di Indonesia. Namun, guncangannya sudah mulai memukul Jakarta dan kota-kota besar lainnya, dan dipastikan lambat laun akan sampai ke seluruh wilayah Indonesia.
Kita tidak bisa lagi menghindar atau sekadar bersantai menghadapi kiamat jurusan konvensional ini bukan lagi pekerjaan satu-dua orang saja, melainkan kerja bareng dan tanggung jawab bersama mulai dari pemerintah, dunia pendidikan, hingga masyarakat itu sendiri.

