Insitekaltim, Samarinda – Masyarakat yang memiliki riwayat penyakit lambung seperti gastritis dan gastroesophageal reflux disease (GERD) diimbau untuk lebih cermat dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan. Lambung yang kosong selama berjam-jam berpotensi memicu kekambuhan apabila tidak diimbangi dengan pola makan dan pengobatan yang tepat.
Hal tersebut disampaikan Dokter Tirta dalam sesi edukasi kesehatan mengenai puasa bagi penderita gangguan lambung yang diunggah di kanal YouTube Tirta PengPengPeng, Kamis, 19 Februari 2026.
Dokter Tirta menjelaskan, secara medis penderita asam lambung tetap dapat menjalankan puasa, namun tubuh memerlukan proses adaptasi. Kondisi lambung yang kosong selama hampir 12 jam dinilai cukup berisiko memicu kekambuhan bila tidak diantisipasi dengan baik.
“Secara realistis, bagi yang punya riwayat penyakit lambung, puasa memang rentan memicu kambuh. Tubuh harus beradaptasi karena lambung kosong dalam waktu lama,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya konsumsi obat lambung sesuai anjuran dokter, terutama saat berbuka puasa dan sahur. Konsumsi obat secara teratur dinilai mampu membantu menjaga kestabilan produksi asam lambung selama menjalani ibadah puasa.
Selain pengobatan, pola makan saat berbuka puasa juga menjadi perhatian utama. Dokter Tirta menyarankan agar masyarakat tidak langsung mengonsumsi makanan berat.
“Saat berbuka sebaiknya diawali dengan air putih dan kurma, lalu makan secara bertahap. Jangan langsung makan berat karena lambung bisa kaget dan memicu nyeri,” jelasnya.
Sementara pada waktu sahur, ia menganjurkan menu yang lembut dan mudah dicerna, seperti jus alpukat atau makanan bergizi seimbang, untuk membantu menjaga kondisi lambung tetap stabil. Porsi makan berlebihan juga perlu dihindari.
“Makan secukupnya saja. Kalau terlalu kenyang, tekanan pada lambung meningkat dan itu bisa memicu GERD,” tambahnya.
Lebih lanjut, Dokter Tirta menegaskan bahwa penderita penyakit lambung tetap diperbolehkan berpuasa selama kondisi tubuh memungkinkan dan pengaturan dilakukan dengan tepat. Namun, apabila keluhan muncul dalam kondisi berat, terdapat keringanan untuk tidak melanjutkan puasa.
“Kalau kambuhnya berat saat berpuasa, seperti nyeri hebat atau muntah di siang hari, maka tidak diwajibkan melanjutkan puasa. Boleh dibatalkan dan segera periksa ke dokter,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan agar masyarakat tidak memaksakan diri menjalankan puasa ketika kondisi kesehatan tidak memungkinkan.
Menurutnya, kesehatan tetap menjadi prioritas utama. Dengan pengaturan pola makan yang baik, konsumsi obat secara teratur, serta konsultasi medis rutin, penderita penyakit lambung tetap dapat menjalankan ibadah puasa dengan aman dan nyaman.
