Insitekaltim, Samarinda – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda Suwarso menyatakan persoalan sampah di Kota Samarinda kini mulai dipandang dari kacamata yang berbeda. Bukan lagi sekadar limbah yang mengganggu estetika kota, sampah kini diposisikan sebagai aset ekonomi yang menjanjikan.
Hal ini ditegaskannya saat menghadiri Talkshow Hari Sampah Nasional 2026 yang diinisiasi oleh Bank Sampah Faperta Universitas Mulawarman (Unmul) pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Menurutnya potensi ekonomi dari sektor sampah di Samarinda sangatlah besar, terutama pada kategori sampah organik. Namun, potensi ini memerlukan sentuhan kreativitas dari generasi muda untuk mengubahnya menjadi unit bisnis yang produktif.
Berdasarkan data yang dipaparkan Suwarso, komposisi sampah di Kota Samarinda didominasi oleh sampah organik yang mencapai angka 60 persen. Jika dikelola dengan tepat, angka ini bukan lagi beban bagi TPA, melainkan bahan baku industri hijau.
“Saya melihat ada pemikiran di teman-teman mahasiswa Faperta untuk menjadikan ini sebagai ladang entrepreneurship. Mahasiswa bisa menjadi pengusaha pupuk atau pengolah limbah organik yang sukses,” ujar Suwarso.
Ia menekankan prinsip “Sampahku, Tanggung Jawabku” sebagai pondasi utama. Menurutnya, ketika setiap individu, terutama mahasiswa, sudah mampu mengelola sampahnya sendiri secara mandiri, maka setengah dari persoalan sampah kota sebenarnya sudah terselesaikan.
Suwarso menyadari bahwa semangat mahasiswa harus dibarengi dengan dukungan infrastruktur. Sebagai langkah awal, ia secara pribadi maupun atas nama pemerintah berkomitmen memberikan bantuan stimulan berupa peralatan pengelolaan sampah skala kecil bagi mahasiswa yang sedang melakukan riset.
“Saya mencoba berkontribusi membantu dari sisi peralatan, khususnya ember untuk komposter skala rumah tangga. Ini untuk mendukung uji coba mahasiswa. Jika nanti hasil penelitian mereka terbukti memenuhi standar dan memiliki produktivitas tinggi, kami akan sampaikan ke tingkat Pemerintah Kota atau melalui skema CSR perusahaan untuk pengadaan mesin pengolah pupuk skala besar,” jelasnya.
Ia mencontohkan keberhasilan kolaborasi dengan perusahaan seperti Komatsu yang telah membantu mesin perancang sampah, sebagai bukti bahwa sektor swasta sangat terbuka untuk mendukung inovasi pengelolaan sampah yang konkret.
Bagi Suwarso, peran Bank Sampah di lingkungan kampus, khususnya di Faperta Unmul, adalah laboratorium sosial yang sangat krusial.
Namun, ia mengingatkan agar ilmu tersebut tidak berhenti di gerbang kampus. Mahasiswa harus berani menjadi agen perubahan di lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.
“Ilmu yang didapat di komunitas Bank Sampah ini harus dibawa pulang ke rumah. Mahasiswa harus menjadi agen perubahan di lingkungannya. Memang pekerjaan ini terasa capek dan kotor, tapi jangan dilihat fisiknya saja. Ada nilai kemanusiaan, ada nilai kearifan lokal, dan ada nilai amal di dalamnya,” tambahnya.
Kegiatan Talkshow ini diharapkan tidak menjadi seremoni tahunan belaka. Suwarso berharap ada keberlanjutan dari setiap gagasan yang muncul.
Ia yakin, keberanian mahasiswa untuk mencoba hal baru dan memerankan diri sebagai solusi adalah kunci agar Samarinda tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga mandiri secara ekonomi dalam pengelolaan limbah.
“Kami di DLH sangat mengapresiasi inovasi ini. Jika hulu (sumber sampah) sudah bisa kita olah menjadi barang bernilai ekonomi, maka beban di hilir (TPA) akan berkurang drastis. Ini adalah jalan menuju Samarinda yang lebih hijau dan sejahtera,” pungkasnya.

