Insitekaltim, Samarinda – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda Suwarso menegaskan masa depan kelestarian lingkungan kota berada di tangan generasi muda, khususnya mahasiswa.

Penegasan itu disampaikannya saat menghadiri Talkshow Special Hari Peduli Sampah Nasional 2026 di Gedung Bundar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Unmul), Sabtu, 14 Februari 2026.
Dalam sambutannya, Suwarso mengaku terkesan dengan kualitas gagasan serta keberanian mahasiswa dalam menyuarakan isu lingkungan. Menurutnya, materi dan orasi yang disampaikan mencerminkan kesiapan generasi muda untuk menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kesadaran ekologis kuat.
“Ini bisa menjadi generasi terbaik yang sedang dipersiapkan. Suatu saat nanti bisa menggantikan kami di pemerintahan. Dari orasi dan kualitas materi yang disampaikan, semuanya sangat baik,” ujarnya.
Suwarso menilai mahasiswa memiliki keunggulan berupa kejernihan berpikir dan kemurnian gagasan. Ia bahkan menyebut ide-ide mahasiswa relatif lebih bebas dari kepentingan politik dibandingkan pejabat pemerintahan.
“Kalau gagasan kami kadang terkontaminasi kepentingan politis, mahasiswa justru lebih murni. Sampaikan semua itu sebagai masukan untuk mewujudkan Samarinda kembali meraih Adipura,” tambahnya.
Di balik apresiasi tersebut, Suwarso juga memaparkan tantangan besar yang tengah dihadapi DLH Samarinda, khususnya dalam pengelolaan sampah. Ia menyebut sistem pengelolaan sampah kota saat ini sedang dalam proses pembenahan menyeluruh, sejalan dengan arahan Kementerian Lingkungan Hidup.
Salah satu fokus utama DLH adalah optimalisasi 10 titik insinerator yang ada di Samarinda. Meski masih dalam tahap evaluasi dan pengambilan sampel oleh pemerintah pusat, teknologi tersebut diharapkan mampu mengurangi beban sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Suwarso mengingatkan bahwa ketergantungan pada TPA telah mencapai titik kritis. Kapasitas yang hampir penuh, ditambah persoalan air lindi dan bau menyengat, menjadi risiko serius apabila pengelolaan sampah masih mengandalkan sistem penumpukan.
Ia juga berbagi pengalaman pribadinya saat harus terjun langsung ke lapangan. Suwarso menceritakan momen ketika dirinya berada di atas tumpukan sampah selama dua minggu untuk memastikan tidak terjadi kebakaran di area TPA.
Pengalaman tersebut, menurutnya menjadi bukti bahwa persoalan sampah merupakan masalah dari hulu ke hilir yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah semata.
“Persoalan sampah bukan hanya urusan pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama. Kalau semuanya diserahkan ke pemerintah, itu tidak akan selesai. Semua pihak memiliki peran dalam memilah dan mengelola sampah masing-masing,” tegasnya.
Pemerintah Kota Samarinda, lanjut Suwarso telah menginisiasi program Probebaya di seluruh RT dengan alokasi anggaran sekitar Rp100 juta per RT. Pada periode 2024–2025, program tersebut difokuskan pada sosialisasi pemilahan sampah. Namun, ia mengakui tingkat konsistensi masyarakat masih menjadi tantangan.
“Saat ini yang melanjutkan praktik pemilahan mungkin baru sekitar 30–40 persen. Meski demikian, semangat kita tidak boleh surut. Sosialisasi harus terus dilakukan karena ini adalah soal mengubah kebiasaan,” jelasnya.
Suwarso juga memberikan apresiasi kepada kampus-kampus yang telah mengaktifkan bank sampah. Ia meyakini keterlibatan mahasiswa akan menciptakan efek domino, mulai dari lingkungan keluarga hingga pergaulan sosial yang lebih luas, sehingga mampu meringankan beban sampah kota.
Menutup sambutannya, Suwarso menegaskan bahwa seluruh gagasan yang lahir dari kegiatan tersebut tidak akan berhenti sebagai seremoni.
“Kami memastikan aspirasi dan ide mahasiswa akan diteruskan kepada Wali Kota Samarinda sebagai bahan pertimbangan kebijakan, demi mewujudkan kota yang lebih bersih, sehat, dan layak huni,” pungkasnya.

