Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Supardi Sebut Kaltim Jadi Penugasan Paling Berkesan dalam Kariernya

    Agustus 14, 2026

    Efisiensi Jadi Landasan RAPBD 2027 Samarinda, Belanja Tak Prioritas Ditunda

    Agustus 14, 2026

    Kaltim Kejar Swasembada Beras, Capaian Pangan Naik dari 30 Persen Jadi 58 Persen

    Agustus 14, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Kaltim»Petani Padi Gunung Long Pejeng Bertahan dengan Cara Tradisional di Tengah Tantangan Zaman
    Kaltim

    Petani Padi Gunung Long Pejeng Bertahan dengan Cara Tradisional di Tengah Tantangan Zaman

    RidhoBy RidhoFebruari 8, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Lahan penanaman padi gunung di desa Long Pejeng Kutim (Ist/Petani Karnolius)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim, Kutim — Pertanian padi gunung di Desa Long Pejeng, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih bertahan di tengah berbagai tantangan mulai dari cuaca yang tidak menentu, keterbatasan teknologi, hingga minimnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian tradisional tersebut.

    Teks: Proses pengeringan padi (Ist/Petani Karnolius)

    Salah satu petani setempat yang meneruskan usaha keluarganya Karnolius mengungkapkan, dirinya telah menjadi petani padi gunung sejak 2013 dan masih menekuni kegiatan tersebut hingga sekarang. Meski telah lebih dari 13 tahun bertani, usaha padi gunung hanya menjadi pekerjaan sampingan yang dilakukan satu kali dalam setahun.

    “Kami menjadi petani padi sudah lebih dari 13 tahun, sejak dari tahun 2013 hingga sekarang. Bertani padi ini hanya pekerjaan sampingan tiap tahun, padi ini biasanya hanya satu kali tanam. Pekerjaan utama kami ada di sawit, kakao, dan karet,” ujar Karnolius, saat berkomunikasi WhatsApp, Minggu, 8 Februari 2026.

    Ia menjelaskan, secara umum kondisi pertanian padi di Desa Long Pejeng masih berskala kecil. Tidak banyak masyarakat yang menekuni pertanian padi gunung karena sebagian besar memilih sektor pekerkaan kebun yang dinilai lebih menjanjikan.

    “Secara umum kondisi pertanian padi di sini masih kecil, hanya beberapa orang saja yang bertani padi,” katanya.

    Lebih lanjut, dalam proses produksi pengelolaan lahan hingga panen, petani setempat masih menggunakan alat-alat tradisional. Penggunaan teknologi modern dinilai belum banyak diterapkan, terutama pada tahap penanaman dan pemanenan.

    “Petani di sini masih menggunakan alat tradisional pada tahap penanaman hingga panennya,” jelasnya.

    Dengan demikian ia mengungkapkan untuk hasil panen tahun ini, petani mengaku mengalami penurunan produksi akibat cuaca yang tidak stabil. Curah hujan yang tinggi menyebabkan banyak tanaman padi rebah sebelum masa panennya.

    “Untuk hasil tahun ini menurun karena kondisi cuaca tidak stabil, sering hujan jadi banyak padi yang rebah dan tidak bisa dipanen,” ungkapnya.

    Selain itu ia juga menyoroti semakin berkurangnya minat generasi muda untuk menjadi petani. Banyak anak muda memilih bekerja di perusahaan sawit maupun pertambangan batubara yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.

    “Untuk sekarang hanya segelintir generasi muda saja yang bertani, karena banyak yang bekerja di perusahaan sawit dan batubara,” tuturnya.

    Menjelang mengakhiri ia menyampaikan pesan kepetani setempat untuk berharap hasil panennya padi dapat diolah terlebih dahulu sebelum dijual agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

    “Hasil panen padi sebaiknya diolah dulu, jangan dijual mentah, karena harganya bisa turun. Kalau diolah tentu nilai jualnya lebih baik dan bisa membantu kesejahteraan petani,” pungkasnya.

     

    Desa Long Pejeng Kutai Timur Petani
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ridho

    Related Posts

    Tekan Inflasi, BPS Minta Penguatan Komoditas Lokal Harus Berkelanjutan

    Juli 29, 2026

    BMKG Catat 78 Titik Panas di Kaltim, Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi Agustus

    Juli 19, 2026

    Kaltim Bidik Pertahankan Juara Umum MTQN, LPTQ Tekankan Pembinaan Berbasis Pengabdian

    Juli 14, 2026

    Produksi Ikan Kaltim Meningkat, DKP Pastikan Pasok Bahan Baku MBG Aman

    Juli 13, 2026

    PT PSB Hanya Kirim Kuasa Hukum, Komisi IV DPRD Kaltim Tunda Pembahasan Hasil Supervisi

    Juni 29, 2026

    Supervisi DPRD Kaltim Temukan Dugaan Pengelolaan Limbah PT PSB Tak Sesuai Dokumen Lingkungan

    Juni 29, 2026
    Add A Comment

    Comments are closed.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Supardi Sebut Kaltim Jadi Penugasan Paling Berkesan dalam Kariernya

    R’syaAgustus 14, 2026

    Insitekaltim, Samarinda – Mantan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kalimantan Timur (Kaltim) Supardi menyebut masa tugasnya…

    Efisiensi Jadi Landasan RAPBD 2027 Samarinda, Belanja Tak Prioritas Ditunda

    Agustus 14, 2026

    Kaltim Kejar Swasembada Beras, Capaian Pangan Naik dari 30 Persen Jadi 58 Persen

    Agustus 14, 2026

    Skirining Jadi Kekuatan Pemerintah Kota Samarinda Percepat Jaring Penderita HIV

    Agustus 14, 2026

    187 Lulusan IKIP PGRI Kaltim Siap Diwisuda Oktober 2026

    Agustus 14, 2026
    1 2 3 … 3,278 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.