Insitekaltim, Samarinda – Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 10 Samarinda Ni Made Adnyani melakukan lompatan besar dalam dunia pendidikan dengan memperkenalkan Budaya Riset Kolaboratif sebagai identitas baru sekolah.
Program ini secara resmi diintegrasikan ke dalam jadwal intrakurikuler siswa mulai Januari 2026, menjadikannya sebagai program unggulan pertama di Kaltim yang mewajibkan riset sebagai aktivitas rutin mingguan yang terjadwal.
Ni Made Adnyani mengungkapkan, langkah ini merupakan strategi sekolah dalam menjawab tantangan akademik global.
Menurutnya, kemampuan riset bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan dasar bagi siswa yang ingin bersaing di level yang lebih tinggi.
Program ini dirancang secara terstruktur dan melibatkan seluruh siswa tanpa terkecuali. Setiap minggunya, sebanyak 355 siswa kelas 10 mengikuti seminar riset hari Rabu, sementara siswa kelas 11 mendapatkan giliran pada hari Kamis. Sesi ini berlangsung selama 90 menit mulai pukul 14.0-15.30 WITA.
“Ini adalah program baru yang kami rancang sebagai program unggulan. Riset kolaboratif ini bukan sekadar tugas tapi budaya yang kami bangun sejak dini, karena sifatnya intrakurikuler. Maka kegiatannya terjadwal secara resmi dalam jam belajar siswa,” jelasnya saat diwawancarai, Rabu, 4 Februari 2026.
Salah satu kekuatan utama dari program ini adalah keterbukaan sekolah terhadap pihak luar. SMAN 10 Samarinda aktif mengundang akademisi, peneliti, teknokrat, hingga praktisi pemerintahan untuk berbagi ilmu secara langsung di hadapan siswa.
Pada kegiatan terbaru, sekolah menghadirkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kaltim, Fitriansyah, yang memaparkan materi mengenai peran pemerintah dalam pembangunan daerah berkelanjutan.
Selain unsur pemerintah, sekolah juga menggandeng lembaga seperti Purilensia yang bergerak di bidang riset tanaman organik, serta berencana menghadirkan pakar dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Mulawarman.
“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi para pakar untuk hadir seminggu sekali. Tujuannya agar mereka bisa berbagi inspirasi. Siswa tidak hanya belajar teori di kelas, tapi mendengar langsung dari para ahli di bidangnya,” tambahnya.
Selain itu, fokus pada riset kolaboratif ini memiliki tujuan pragmatis bagi masa depan siswa. Saat ini, banyak universitas ternama di luar negeri menjadikan pengalaman riset sebagai syarat utama dalam proses seleksi mahasiswa baru.
“Riset kolaboratif adalah salah satu syarat yang sangat dibutuhkan ketika siswa ingin belajar ke luar negeri. Jika biasanya riset atau skripsi bersifat individu, di sini kita ubah menjadi kerja kelompok. Mereka bisa berkolaborasi dengan instansi, teman, bahkan dengan guru pendamping,” tuturnya.
Meskipun baru berjalan di semester ini, pihak sekolah memiliki ekspektasi tinggi terhadap hasil akhir program ini. Fokus riset yang diberikan pun sangat fleksibel, menyesuaikan dengan minat siswa mulai dari bidang science, sosial, hingga humaniora.
“Harapan saya riset kolaboratif ini mencapai produk akhirnya, yaitu lahirnya para peneliti muda. Kami berharap berbagai pihak, baik di Samarinda maupun luar daerah, dapat terus ikut berpartisipasi dalam seminar rutin yang kami laksanakan setiap minggu ini untuk memotivasi anak-anak kita,” pungkasnya.

