insitekaktim, Pasuruan – Pasuruan kembali menjadi saksi perjalanan panjang Nahdlatul Ulama (NU). Dalam rangka peringatan satu abad NU, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Pasuruan Raya yang tergabung dalam Zona 6 menggelar Ziarah Muassis dengan mengunjungi sejumlah situs bersejarah, salah satunya eks Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) atau Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Bangunan yang berada di Kota Pasuruan tersebut bukan sekadar rumah tua. Di tempat itulah PBNU pernah berkantor, menempati kediaman Ketua PBNU pada masanya yakni KH Muhammad Dachlan. Keberadaannya menjadi penanda penting fase awal konsolidasi NU di tingkat nasional.
Ketua PCNU Kota Pasuruan Nailur Rochman mengatakan, masih banyak warga nahdliyin yang belum mengetahui bahwa Kota Pasuruan pernah menjadi pusat aktivitas PBNU.
Oleh sebab itu, ia menilai bangunan tersebut layak mendapatkan perhatian serius sebagai bagian dari warisan sejarah NU.
“PBNU pernah berkantor di Kota Pasuruan tepatnya di rumah KH Muhammad Dachlan. Ini bukan sekadar bangunan, tetapi bagian dari sejarah NU yang perlu dilestarikan dan didorong menjadi cagar budaya,” ungkapnya Senin, 26 Januari 2026.
Ia menambahkan, setiap kali para pengurus NU melintas di lokasi tersebut, doa selalu dipanjatkan agar bangunan bersejarah itu tetap terjaga. PCNU Kota Pasuruan juga terus menjalin komunikasi dengan keluarga besar KH Muhammad Dachlan sebagai bentuk silaturahim sekaligus upaya menjaga kesinambungan sejarah.
“Alhamdulillah hari ini cucu-cucu Mbah Yai Dachlan bisa hadir bersama kita. Semoga hubungan ini terus terjaga,” katanya.
Antusiasme terhadap kegiatan ziarah ini juga terlihat dari tingkat akar rumput. Sekretaris PCNU Kota Pasuruan Achmad Mudhofir menyampaikan, pengurus ranting NU Bangilan bersama warga sekitar berinisiatif membersihkan bangunan eks kantor PBNU yang telah lama tidak ditempati.
“Begitu mendapat kabar akan dikunjungi, pengurus ranting dan warga langsung bergerak membersihkan bangunan. Semangat kebersamaannya luar biasa,” tutur Mudhofir.
Menurutnya, pada waktu yang bersamaan keluarga besar KH Muhammad Dachlan juga datang ke Kota Pasuruan untuk bersilaturahim dengan PCNU Kota Pasuruan. Pertemuan tersebut dipusatkan di Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah.
“Saat kami berada di Sidogiri, keluarga dari Malang datang ke Pasuruan untuk bersilaturahim dengan pengurus NU,” tuturnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, rangkaian Ziarah Muassis Zona 6 diawali dari makam KH Abdurrahman Legi di Kota Pasuruan. Rombongan kemudian transit di Pondok Pesantren Bayt Al-Hikmah sebelum melanjutkan ziarah ke eks Kantor HBNO.
Perjalanan dilanjutkan ke makam KH Abdul Hamid, makam KH Nawawi Sidogiri, dan ditutup di makam KH Zainal Abidin Grogolan.
Ziarah ini tidak hanya menjadi agenda seremonial peringatan satu abad NU, tetapi juga upaya menautkan kembali ingatan kolektif warga nahdliyin terhadap jejak sejarah NU yang pernah tumbuh dan berkembang di Kota Pasuruan.

