Insitekaltim, Samarinda — Wakil Ketua Umum I Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Suwarno menegaskan pentingnya fokus pembinaan cabang olahraga (cabor) Olimpiade sebagai strategi utama dalam menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri rapat kerja bersama KONI Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dan para pemangku kepentingan olahraga daerah pada Sabtu, 3 Januari 2026.
Suwarno menjelaskan, dinamika olahraga multievent seperti SEA Games menunjukkan besarnya kewenangan tuan rumah dalam menentukan cabang olahraga yang dipertandingkan. Kondisi ini bermula sejak revisi SEA Games Charter pada 2010 yang memberi ruang bagi tuan rumah untuk menambahkan cabang olahraga di luar ketentuan minimal cabang Olimpiade.
“Kondisi ini menimbulkan ketimpangan kompetisi. Ada cabang olahraga yang bahkan hanya diikuti tiga atau empat atlet. Fenomena tersebut mulai terlihat sejak Indonesia menjadi tuan rumah SEA Games 2011,” ujar Suwarno.
Ia mencontohkan SEA Games di Thailand yang mempertandingkan hingga 51 cabang olahraga, sementara Indonesia hanya mengikuti 49 cabang. Bahkan, menjelang pelaksanaan, muncul tambahan cabang baru seperti flying disc dan tarik tambang.
Dalam konteks prestasi regional, Suwarno menyebut Indonesia turut diuntungkan oleh dinamika geopolitik olahraga Asia Tenggara. Menurunnya performa Vietnam serta absennya Kamboja pada ajang sebelumnya membuka peluang Indonesia untuk finis di posisi kedua klasemen akhir.
Pada kesempatan tersebut, Suwarno juga menyampaikan apresiasi kepada KONI Kaltim atas kontribusi atlet-atletnya yang berhasil menyumbangkan total 21 medali, terdiri dari tiga emas, delapan perak, dan sepuluh perunggu. Medali emas Kaltim disumbangkan dari cabang olahraga catur dan kabaddi.
“Ini prestasi yang patut diapresiasi. Terima kasih kepada para atlet dan pelatih Kalimantan Timur,” katanya.
Meski demikian, Suwarno mengingatkan bahwa ke depan, arah kebijakan olahraga nasional akan semakin menitikberatkan pada pembinaan cabang olahraga Olimpiade. Ia menyebut, PON 2028 diproyeksikan hanya mempertandingkan 32 cabang olahraga Olimpiade, ditambah beberapa cabang yang memiliki prestasi internasional.
Ia juga menyinggung dinamika penetapan tuan rumah PON 2028 yang hingga kini masih berlangsung, dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu kandidat kuat. Menurutnya, PON bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga instrumen pemerataan pembangunan dan pengenalan potensi daerah.
“Seperti Papua dan Aceh. Setelah menjadi tuan rumah PON, perspektif nasional terhadap daerah tersebut berubah. PON adalah alat pemersatu sekaligus pendorong pembangunan daerah,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Suwarno menekankan pentingnya sikap realistis dalam penetapan target prestasi daerah. Ia meminta setiap provinsi fokus meningkatkan capaian dibandingkan PON sebelumnya serta memaksimalkan potensi cabang olahraga individual yang memiliki peluang besar menyumbang medali.
“Target harus realistis. Yang terpenting prestasi meningkat, penyelenggaraan berjalan baik, dan dampak ekonomi daerah ikut bergerak,” pungkasnya.
