Reporter: Hilda – Editor: Redaksi
Insitekaltim, Samarinda – Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menyatakan nilai ekspor per November 2019 mengalami penurunan sebesar 6,38% dari yang awalnya berjumlah US$ 1,36 Miliar menjadi US$ 1,27 Miliar. Hal ini diketahui dari konferensi pers yang diadakan BPS di Lantai 1 ruang Vidio Conference, Kamis (2/1/2020).
Menurut Anggoro Dwitjahyono Kepala BPS Kaltim, kondisi ini disebabkan oleh turunnya nilai ekspor barang non migas.
“Dari sisi nasional memang relatif kurang bagus. Ekspor kita juga lebih banyak bersumber dari posisi komoditas. Itu juga yang bikin mempengaruhi tidak hanya dari kuantitas, tapi juga pasar,” terangnya.
Dikatakan Anggoro, yang hal ini patut diwaspadai karena Kaltim masih mengandalkan industri hulu. Selain itu, pengurangan ekspor juga terjadi karena beberapa negara tujuan penerima melakukan perubahan dalam hal impor.
Seperti India yang melakukan peningkatan bea masuk sebesar 100% dari yang awalnya 7,5% menjadi 15%. Serta negara di Benua Eropa yang mengampanyekan dampak negatif penggunaan sawit.
Dengan tantangan seperti itu, Anggoro berharap agar pemerintah mampu segera mencari pasar baru agar bisa mengembalikan nilai ekspor Kaltim.
“Saya berharap semoga harga internasional terutama komoditi yang kita ekspor tadi meningkat,” pungkasnya.
