Reporter : Eki- Editor : Redaksi
Insitekaltim, Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memiliki program smart city. Gerakan yang diluncurkan sejak tahun lalu ini dimaksudkan untuk memberikan akses layanan internet bagi warga hingga ke pelosok desa.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Komunikasi Informatika Persandian dan Statistik (Kadis Kominfo Perstik) Ery Mulyadi saat ditemui di Bukit Pelangi, Minggu (21/11/2021).
Berdasarkan data, dari 139 desa di Kutim ada 37 desa yang blank spot (tak terjangkau jaringan komunikasi). Dengan kerja sama ini ada 67 spot yang akan dikerjakan di 13 desa. Artinya masih ada kurang lebih 26 persen daerah yang masih blankspot atau 37 desa.
“Dari 139 desa yang ada di Kutim saat ini, ternyata baru 102 desa yang terjangkau jaringan internet. Jika dipersentasekan mencapai 74 persen,” ungkap Ery sapaan akrabnya kepada awak media.
Program ini menurut Ery tentunya akan dilaksanakan secara bertahap. Jumlah ini akan bertambah tahun depan.
Sesuai target yang diberikan oleh bupati dan wakil bupati, tahun depan seluruh desa yang tersebar di 18 kecamatan sudah harus terjangkau layanan jaringan internet.
“Jadi targetnya 2022 nanti semua desa di Kutim merdeka sinyal, artinya seluruh wilayah yang ada di Kutim jaringan internetnya sampai pelosok,” ungkapnya optimis.
Menurutnya, program ini sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini menjadi pelajaran bersama bahwa begitu penting jaringan TIK, terutama di daerah yang terisolir.
“Mudahan di masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati (Ardiansyah-Kasmidi Bulang), seluruh daerah blank spot sudah ada jaringan internetnya,” ujar Ery.
Dengan adanya perkembangan dan kemajuan teknologi, desa berbasis teknologi informasi memang merupakan orientasi program yang sedang dia laksanakan. Apalagi internet saat ini menjadi salah satu kebutuhan masyarakat untuk berkegiatan.
