
Reporter: Nuril – Editor: Redaksi
Insitekaltim, Sangatta – Program Sekolah Adiwiyata Dinas Lingkungan (DLH) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), masih minim peserta.
Program ini merupakan penilaian pemerintah daerah kepada sekolah-sekolah untuk kepedulian terhadap lingkungan yang sehat, bersih, dan indah. Namun hingga kini, baru 87 sekolah yang berpartisipasi dalam program itu.
“Sekolah yang diikutkan dalam Program Adiwiyata berjumlah 87 sekolah. Untuk wilayah seluas Kutim, hal itu masih relatif sedikit dengan jumlah sekolah yang tersebar di 18 kecamatan,” ucap Kepala DLH Kutim, Aji Wijaya Effendie kepada Insitekaltim.com melalui telepon, Selasa (8/6/2021).
DLH Kutim telah mengembangkan Program Sekolah Adiwiyata sejak tahun 2007 silam. Seiring bergantinya tahun, peningkatan jumlah Sekolah Adiwiyata masih sedikit.
“Sasaran kami dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah yang sejajarnya di 18 kecamatan,” jelas Wijaya.
Salah satu pendidikan lingkungan hidup yang diberikan kepada siswa di Sekolah Adiwiyata ialah cara pengelolaan sampah di sekitarnya.
Wijaya menambahkan pembekalan ilmu mengenai upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi sampah plastik dengan menerapkan reduce, reuse and recycle (3R).
“Tentu dalam pelaksanaannya kami memiliki beberapa kendala teknis seperti wilayah Kutim yang sangat luas sehingga tim pembina Adiwiyata tidak mudah untuk menjangkaunya,” pungkas Wijaya.
Selain itu, pihaknya juga terkendala terhadap terbatasnya anggaran sehingga pembinaan Adiwiyata di Kutim tidak maksimal. Ia menerangkan Sekolah Adiwiyata ini merupakan tanggung jawab bersama.
“Semakin banyak pihak yang ikut berperan serta menyukseskan Adiwiyata maka kendala yang ada akan mudah diatasi,” tutup Wijaya.
Perlu diketahui, hingga tahun 2020 jumlah Sekolah Adiwiyata mandiri ada 7 sekolah, tingkat nasional ada 8 sekolah, tingkat provinsi ada 37 sekolah dan tingkat kabupaten ada 35 sekolah. Sehingga diperoleh total 87 sekolah di 18 kecamatan wilayah Kutim.

