Insitekaltim, Samarinda – Teknologi satelit memiliki beragam fungsi vital selain telekomunikasi, termasuk pengamatan cuaca, lingkungan dan atmosfer. Namun, keberadaan satelit di orbit menghadapi ancaman besar dari radiasi ruang angkasa yang dapat merusak sistem elektronik hingga menyebabkan kegagalan total.
Radiasi ruang angkasa menjadi tantangan utama yang dihadapi satelit. Faktor seperti lokasi orbit, badai matahari, hingga material yang digunakan dalam pembuatan satelit turut memengaruhi dampaknya.
“Gangguan radiasi sangat memengaruhi kinerja satelit. Jika tidak ditangani, kerusakannya bisa permanen,” jelas Periset Pusat Riset Antariksa BRIN Nizam Ahmad pada akun media sosialnya pada Senin, 30 Desember 2024.
Peneliti mencatat beberapa faktor yang memengaruhi kerusakan satelit akibat radiasi. Ketinggian dan inklinasi orbit menjadi salah satu penentu tingkat paparan radiasi. Selain itu, badai matahari dan badai magnetik yang kerap terjadi juga meningkatkan risiko kerusakan pada komponen vital satelit.
Nizam juga menjelaskan bahwa material yang digunakan dalam konstruksi satelit memainkan peran penting dalam ketahanan terhadap radiasi.
“Bahan yang lebih tahan terhadap radiasi perlu dikembangkan untuk meminimalkan dampak buruk,” tambahnya.
Belajar dari kegagalan satelit sebelumnya, para ilmuwan kini mengembangkan solusi untuk mengurangi risiko kerusakan akibat radiasi. Solusi ini mencakup pembuatan material pelindung yang lebih tangguh, pemilihan komponen yang optimal, serta penempatan satelit di lokasi orbit yang lebih aman.
Indonesia, melalui program pengembangan satelit yang diinisiasi, diharapkan memiliki kemampuan mitigasi risiko untuk memastikan satelit yang dikembangkan dapat bertahan di lingkungan antariksa yang ekstrem.
“Penting untuk memahami perubahan lingkungan antariksa secara mendalam agar satelit masa depan lebih tahan terhadap kondisi destruktif,” tegas Nizam.
Mitigasi ancaman radiasi bukan hanya memperpanjang usia satelit, tetapi juga memastikan data vital dari pengamatan bumi tetap tersedia.
“Keberhasilan ini akan membuka peluang besar bagi Indonesia dalam bidang teknologi antariksa,” tutup Nizam.