Insitekaltim, Samarinda – Regional Director sekaligus pemegang lisensi Putera Puteri Pelajar Kalimatan Timur (Kaltim) Handi Wijaya menyampaikan pesan mendalam bagi seluruh grand finalist.
Ia menegaskan bahwa esensi dari ajang ini adalah pembinaan karakter dan intelektualitas, bukan sekadar kompetisi kecantikan atau penampilan semata. Perhelatan pemilihan Putera Puteri Pelajar Kaltim telah resmi memasuki babak puncaknya pada Rabu, 28 Januari 2026 malam.
Namun, bagi para pemenang, mahkota dan selempang yang diraih bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan gerbang pembuka untuk kontribusi yang lebih besar bagi dunia pendidikan di Benua Etam.
Salah satu poin utama yang menjadi fokus pasca-kemenangan adalah eksekusi program kerja. Handi menuntut aksi nyata dari para pelajar terpilih untuk terjun langsung ke masyarakat.
Dalam waktu dekat, mereka akan menginisiasi program bertajuk Geliat (Gerakan Literasi Banua Etam).
Program ini tidak hanya berpusat di ibu kota provinsi, tetapi akan melibatkan seluruh finalis dari berbagai kabupaten dan kota untuk berkolaborasi dengan sekolah-sekolah serta pemangku kepentingan setempat. Tujuannya jelas yaitu mendongkrak indeks literasi pelajar di pelosok Kalimantan Timur.
“Kami ingin teman-teman ini tidak hanya berbangga dengan jasnya saja, dengan crown-nya saja, akan tetapi bagaimana mereka dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat luas, khususnya kalangan pelajar yang ada di Provinsi Kalimantan Timur,” tegas Handi.
Untuk membekali para pemenang dengan perspektif global, ajang ini bekerja sama dengan Explora Indonesia guna memberangkatkan pemenang kategori SMP dan SMA dalam program studi pembelajaran ke luar negeri. Destinasi utamanya adalah dua negara tetangga, Singapura dan Malaysia.
Rangkaian kegiatan di sana telah dirancang secara komprehensif, mulai dari campus visit ke universitas ternama guna memotivasi peserta melanjutkan pendidikan ke jenjang dunia, hingga sesi pembekalan eksklusif dari beberapa perusahaan besar.
Selain itu, mereka juga akan melakukan kunjungan kebudayaan untuk memahami keragaman internasional.
Dalam wawancara tersebut, Handi juga memberikan catatan khusus mengenai penguasaan bahasa asing. Ia berpendapat bahwa pemahaman internasional (international understanding) adalah aset vital bagi generasi muda saat ini.
“Belajar bahasa Inggris merupakan suatu kewajiban dan suatu keharusan karena di era digital seperti saat ini dan era globalisasi, ini salah satu soft skill yang dapat menunjang kebutuhan mereka,” tambahnya.
Melalui program ini, diharapkan Putera Puteri Pelajar Kaltim mampu menjadi role model yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan daya saing di level internasional.

