Insitekaltim, Samarinda – Sejumlah pondok pesantren di Kalimantan Timur (Kaltim) kehilangan peminat pada penerimaan santri tahun ajaran 2026. Penurunan itu diakui Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Kaltim terjadi setelah rentetan kasus kekerasan di lingkungan pesantren menyita perhatian publik.
Laporan mengenai berkurangnya jumlah santri baru datang dari pengelola pesantren di berbagai daerah. Meski belum disertai angka pasti, fenomena itu dinilai menjadi sinyal menurunnya kepercayaan sebagian orang tua untuk menitipkan anaknya di pondok pesantren.
“Dalam tahun ajaran terakhir, pesantren-pesantren melaporkan siswanya agak kurang. Mungkin karena banyak kejadian-kejadian terakhir,” kata Kepala Kanwil Kemenag Kaltim Abdul Khaliq, Selasa, 28 Juli 2026.
Abdul Khaliq tidak menampik berbagai kasus kekerasan yang mencuat belakangan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan orang tua. Karena itu, menurutnya, upaya memulihkan kepercayaan publik kini menjadi pekerjaan besar bagi pengelola pesantren maupun pemerintah.
“Kami harapkan masyarakat bisa kembali mempercayai pesantren-pesantren,” ujarnya.
Di tengah menurunnya minat tersebut, Kemenag mulai membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan pesantren. Satgas akan dibentuk berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten dan kota, kecamatan hingga masing-masing pondok pesantren.
“Di kabupaten kota ada satgas, di kecamatan ada satgas, pondok pesantren juga ada satgas. Jadi saling membantu,” katanya.
Menurut dia, pengawasan tidak bisa hanya dibebankan kepada pengelola pesantren. Warga yang tinggal di sekitar lingkungan pondok juga diminta ikut mengawasi apabila menemukan dugaan kekerasan atau pelanggaran.
“Kami harapkan masyarakat sekitar pondok pesantren jangan acuh tak acuh,” harapnya.

