Insitekaltim, Samarinda – Perencana pembatasan lalu lintas kendaraan diatas roda 4 di Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) memunculkan kekhawatiran di kalangan sopir truk yang akses jalan tersebut menjadi mata pencarian mereka.
Melalui pantauan di lokasi Jembatan Mahulu pada Selasa malam, 27 Januari 2026, lalu lintas kendaraan roda enam keatas masih terlihat melintas di jembatan tersebut, diketahui pemasangan portal pembatas yang dijadwalkan pukul 17.00 sore belum terlaksana hingga sekarang.
Salah satu sopir yang berada di lokasi Nasrum (56), sopir truk yang sudah puluhan tahun melintasi Jembatan Mahulu sejak pertama kali dioperasikan.
Ia merasa keberatan terkait rencana alternatif jalur yang akan dialihkan ke Tenggarong.
“Kalau dari kami sopir ya merasa keberatan. Karna mutarnya menuju lokasi pengantaran terlalu jauh. Kalau harus dialihkan kita balik lagi mutar ke sana,” ujar Nasrum.
Menurutnya, hingga saat ini Jembatan Mahulu menjadi satu-satunya jalur yang masih bisa dilewati truk roda enam, mengingat Jembatan Mahakam I dan jalur lain telah lebih dulu dibatasi untuk kendaraan beroda lebih dengan terhalang oleh portal.
“Kalau Mahulu ditutup juga, otomatis kendaraan berat roda enam tidak bisa lewat sama sekali. Kami bingung mau lewat mana,” tegasnya.
Nasrum menyebutkan, opsi pengalihan melalui jalur Tenggarong dinilai tidak ideal bagi kendaraan berat. Selain jarak yang lebih jauh, kondisi jalan dinilai cukup berisiko.
“Kondisi jalannya tanjakan, turunan, sempit. Muatan kami kadang 25 ton bahkan lebih. Dari kami sopir juga ada kekhawatiran,” jelasnya.
Ia membandingkan waktu tempuh normal dari pelabuhan ke pergudangan yang biasanya memakan waktu 1,5 hingga 2 jam jika melalui Mahulu. Jika harus memutar melalui Tenggarong, waktu tempuh disebut bisa jauh lebih lama, dengan konsekuensi meningkatnya biaya operasional.
“Kalau mutar, jelas lebih lama. Biaya solar nambah, waktu nambah. Sementara kami ini sopir borongan, kalau tidak jalan ya tidak dapat uang,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Nasrum berharap ada solusi yang lebih fleksibel bagi sopir truk, seperti skema buka-tutup atau pengaturan jam tertentu, agar kendaraan berat masih bisa melintas tanpa harus memutar terlalu jauh.
“Harapan kami ya tetap lewat sini. Kalau pun dibatasi, mungkin bisa buka-tutup atau diatur jamnya. Dulu pernah dialihkan ke Mahakam I, tapi sekarang belum tahu seperti apa,” pungkasnya.

