Insitekaltim, Samarinda — Jauh dari kampung halaman, Natal tetap hadir membawa makna bagi Rido. Mahasiswa Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) asal Nias Sumatera Utara ini merayakan Natal tahun ini di Samarinda, tanpa kebersamaan langsung dengan keluarga.
Meski rindu, ia memilih memaknai Natal sebagai momen syukur dan refleksi atas perjalanan hidup yang telah dilalui sepanjang tahun.
Menurut Rido, Natal tahun ini menjadi pengingat untuk bersyukur atas setiap proses, baik yang membawa kebahagiaan maupun yang terasa berat. Ia juga menyadari bahwa kasih dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya meski bukan keluarga sedarah merupakan nilai yang sangat berharga.
“Buat saya pribadi, Natal tahun ini tetap tentang bersyukur. Dari semua hal yang sudah saya lewati, baik yang menyenangkan maupun yang berat. Saya jadi makin ngerti kalau kasih dan dukungan dari orang sekitar itu nilainya besar sekali,” ujar Ridho, Kamis, 25 Desember 2025.
Dalam perayaan Natal kali ini, Rido memulai hari dengan mempersiapkan diri untuk mengikuti ibadah di gereja terdekat. Ia juga menyiapkan hadiah kecil dan catatan sederhana untuk teman-teman kost sebagai bentuk perhatian dan kebersamaan. Di sela-sela perayaan, ia menyempatkan diri menelepon keluarga di kampung halaman untuk mengucapkan Selamat Natal.
“Paginya saya siapin baju buat ibadah di gereja. Terus saya juga bikin hadiah kecil buat teman-teman kost, sama nulis catatan buat mereka. Setelah itu nelpon keluarga di kampung buat ngucapin Selamat Natal,” katanya.
Tradisi Natal tetap dijaga meski dirayakan di perantauan. Setiap tahun, Rido selalu membeli pakaian baru untuk dikenakan saat ibadah Natal, saling bertukar kado dengan teman, serta memasak bersama di kost sebagai bentuk kebersamaan sederhana.
“Biasanya beli baju baru buat ibadah Natal, tukar kado sama teman-teman, terus masak bareng di kost,” ungkapnya.
Natal juga menjadi ruang doa dan harapan. Rido berharap dapat menyelesaikan skripsinya pada tahun depan serta mendoakan kesehatan orang tua dan keluarganya di kampung halaman. Ia juga berharap dapat terus menumbuhkan kepedulian sosial dengan saling membantu orang-orang terdekat di sekitarnya.
“Harapan saya semoga tahun depan bisa menyelesaikan skripsi. Orang tua di kampung juga selalu sehat, dan kita bisa saling membantu orang-orang terdekat di sekitar kita,” tuturnya.
Lebih jauh, Rido menekankan bahwa nilai utama Natal adalah kasih terhadap sesama dan kemampuan untuk menerima perbedaan. Menurutnya, nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan saling menghargai, membantu tanpa pamrih, serta menjaga toleransi antarumat beragama.
“Yang paling penting itu bisa menerima perbedaan dan saling mengasihi. Dalam keseharian, saya coba menghargai semua orang dan bantu sebisa mungkin, tanpa melihat latar belakang. Toleransi antaragama itu penting,” ujarnya.
Sebagai mahasiswa perantau yang tidak dapat pulang kampung tahun ini, Rido mengakui perayaan Natal terasa sangat berbeda. Jika sebelumnya Natal selalu diisi dengan liburan dan kebersamaan keluarga, kini ia merayakannya secara mandiri di tanah rantau. Meski rasa rindu terasa berat, doa untuk keluarga tetap ia panjatkan.
“Kalau dulu Natal kumpul sama keluarga dan liburan bareng. Sekarang sebagai anak kost, rayain sendiri. Rindunya berat, tapi saya berdoa semoga keluarga di kampung selalu sehat,” katanya.
Rido menyampaikan ucapan Natal bagi semua. Ia berharap Natal membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi setiap orang, di mana pun berada.
“Selamat Hari Natal. Semoga hari ini membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi kita semua,” pungkasnya.

