Insitekaltim, Samarinda — Perkembangan media yang semakin terbuka di era digital menghadirkan tantangan tersendiri bagi jurnalisme arus utama. Di tengah derasnya arus informasi dari media sosial yang memungkinkan siapa saja menjadi penyampai berita, media profesional dituntut bekerja lebih selektif, kredibel, dan bertanggung jawab demi menjaga kepercayaan publik.
Pandangan tersebut disampaikan Firda Iga Syahmawaty wartawan Infosatu.co, salah satu media di bawah naungan Media Sukri Indonesia (MSI) Group. Ia menilai kompetisi media saat ini tidak lagi semata-mata soal kecepatan, melainkan juga akurasi, integritas, dan tanggung jawab etis.
“Setiap orang sekarang bisa menyampaikan informasi melalui media sosialnya masing-masing. Karena itu, media arus utama harus lebih selektif, kredibel, dan bertanggung jawab agar publik tetap percaya,” ujar Firda Kamis, 1 Januari 2026.
Firda menuturkan, latar belakang pendidikannya di bidang Ilmu Komunikasi menjadi bekal awal dalam menapaki dunia jurnalistik. Berbagai pengetahuan yang diperoleh selama kuliah, seperti teori komunikasi massa, etika media, teknik penulisan berita, hingga analisis wacana, dinilainya sangat relevan dengan praktik jurnalistik.
Meski demikian, ia mengakui realitas lapangan menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan pembelajaran di ruang kelas.
“Di bangku kuliah kita diberi fondasi berpikir dan etika. Namun di dunia kerja, teori itu benar-benar diuji dalam situasi nyata yang sering kali serba terbatas dan penuh tekanan,” katanya.
Sebagai wartawan yang masih berada di tahap awal karier, Firda mengaku harus beradaptasi dengan ritme kerja yang cepat serta tuntutan akurasi yang tinggi.
Ia dituntut mampu mengolah informasi secara sigap tanpa mengorbankan kualitas pemberitaan. Selain itu, membangun kepercayaan dengan narasumber serta membaca situasi di lapangan menjadi tantangan tersendiri, terutama saat berhadapan dengan isu-isu sensitif dan beragam kepentingan publik.
Tantangan lain yang dirasakannya adalah komunikasi langsung dengan narasumber, khususnya dalam situasi wawancara cepat atau saat siaran langsung. Firda mengakui dirinya bukan tipe yang mudah berimprovisasi dalam berbicara, sehingga membutuhkan persiapan matang dalam menyusun pertanyaan.
Menulis, menurutnya menjadi ruang yang paling nyaman untuk mengekspresikan gagasan secara terstruktur dan menjaga ketepatan makna.
“Menulis memberi ruang untuk berpikir dan menyusun logika. Tapi dunia jurnalistik juga menuntut kemampuan komunikasi lisan yang kuat, dan itu terus saya pelajari,” ungkapnya.
Di awal perjalanan kariernya, Firda sempat berekspektasi bahwa kerja jurnalistik lebih banyak berkutat pada idealisme dan aktivitas menulis. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa profesi wartawan menuntut kesiapan menyeluruh, mulai dari kesiapan fisik dan mental, menghadapi penolakan narasumber, hingga tekanan tenggat waktu serta tuntutan eksklusivitas berita.
Tekanan kerja paling terasa pada keharusan untuk selalu siap kapan pun dibutuhkan. Meski demikian, pengalaman tersebut justru memperkaya pemahamannya bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan juga tanggung jawab sosial kepada masyarakat.
Ke depan, Firda menargetkan diri menjadi wartawan yang konsisten menghasilkan karya jurnalistik yang akurat, berimbang, dan berdampak bagi publik.
Ia juga berkeinginan terus mengasah kemampuan menulis hard news, khususnya terkait isu pemerintahan dan hak-hak publik yang menuntut ketelitian data serta proses verifikasi yang kuat.
Ia berharap MSI Group dapat terus menjadi ruang belajar yang sehat bagi jurnalis muda, memberikan bimbingan yang terarah, serta menjaga independensi jurnalistik agar wartawan dapat tumbuh dengan landasan etika dan kualitas karya yang kokoh.

