Insitekaltim, Samarinda — Mantan Ketua Umum (Ketum) Pers Mahasiswa (Persma) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fisipers Universitas Mulawarman (UNMUL), Ekmal menilai tantangan utama pers mahasiswa di Samarinda saat ini bukan hanya soal adaptasi digital, melainkan krisis sumber daya manusia (SDM) dan menurunnya budaya literasi di kalangan mahasiswa.
Menurut Ekmal, Persma di Samarinda memiliki keberagaman dalam mengelola media sosial, website, hingga produk tulisan. Namun, keberagaman tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas SDM dan konsistensi pengelolaan organisasi.
“Persma hari ini terlihat aktif di berbagai platform, tapi minat jurnalistik mahasiswa justru menurun. Ini beriringan dengan literasi yang ikut melemah,” ujar Ekmal, Rabu, 31 Desember 2025.
Secara historis Persma hadir sebagai ruang kritik dan pengawasan di lingkungan kampus. Peran tersebut seharusnya berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas penulisan dan riset di internal persma.
Ia menilai, perdebatan soal idealisme Persma sering kali keliru diarahkan. Bagi Ekmal, persoalan idealisme tidak bisa dilepaskan dari individu yang menjalankan persma itu sendiri.
“Bukan lembaganya yang tidak idealis, tapi orang-orang di dalamnya yang memilih nyaman mengikuti arus kampus dan era digital,” katanya.
Sebagai mantan Ketum, Ekmal juga menyinggung kondisi politik kampus yang menurutnya menjadi miniatur politik regional. Dalam situasi tersebut, Persma kerap berada pada posisi rentan karena tidak memiliki kekuatan struktural maupun finansial seperti pers profesional.
“Persma sering berperan sebagai lembaga pemantau kampus, tapi tidak jarang dianggap hanya membuat cerita tanpa dampak,” ujarnya.
Lebih lanjut Ekmal menjelaskan bahwa kedekatan yang berlebihan dengan birokrasi berpotensi melemahkan daya kritis persma dan mengaburkan fungsi kontrol sosial yang seharusnya dijalankan.
Soal independensi, Ekmal berpandangan bahwa independensi penuh masih sangat sulit dicapai oleh Persma. Namun, nilai tersebut tetap harus diperjuangkan melalui sikap kritis dan konsistensi dalam menjalankan fungsi kontrol sosial sebagai persma.
“Independen itu bukan sesuatu yang langsung dimiliki, tapi diperjuangkan. Persma berproses menuju independensi,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberadaan aliansi Persma di Samarinda yang berjejaring dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) penting sebagai ruang belajar, advokasi, dan solidaritas. Namun, menurutnya, kekuatan utama Persma tetap terletak pada konsistensi internal masing-masing lembaga.
“Tanpa komitmen pada kode etik dan keberanian menjaga jarak dari kepentingan birokrasi, persma hanya akan menjadi organisasi mahasiswa yang kebetulan menulis berita,” pungkas Ekmal.
Ia berharap, konsistensi dan keberanian menjadi kunci agar persma tidak kehilangan identitas kritisnya.

