Insitekaltim, Samarinda — Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menekankan pentingnya penguatan moderasi beragama melalui literasi digital dan dialog berkelanjutan guna mencegah penyebaran isu negatif, potensi konflik, serta menjaga keamanan dan kerukunan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Anggota Bidang Madrasah Kemenag Kaltim Abdul Sahid saat ditemui di Samarinda, Selasa, 23 Desember 2025.
Ia menilai, tanpa pemahaman moderasi beragama yang baik di era digital, isu-isu sensitif akan sangat mudah disalahgunakan dan berpotensi memicu konflik sosial.
“Kalau tidak diberikan pemahaman melalui digitalisasi tentang moderasi beragama, maka kerawanan konflik itu akan sangat mudah terjadi,” ujar Abdul Sahid.
Menurutnya, dialog penguatan moderasi beragama perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk menciptakan kondisi daerah yang aman dan kondusif. Peran Kemenag lanjutnya, tidak hanya terbatas pada lingkungan pendidikan formal, tetapi juga menyentuh masyarakat secara luas.
Salah satu upaya konkret yang telah dijalankan Kemenag Kaltim adalah Program Kampung Moderasi Beragama yang telah berjalan sekitar lima tahun terakhir di sejumlah wilayah.
“Kampung Moderasi Beragama ini sudah ada sejak kurang lebih lima tahun lalu. Beberapa di antaranya berada di Kutai Kartanegara dan Samarinda,” jelasnya.
Di Kampung Moderasi Beragama, nilai-nilai toleransi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari saling menghormati antarumat beragama, menjaga ketenangan lingkungan, hingga mencegah masuknya paham kekerasan.
“Di sana tidak hanya ada satu agama. Semua saling menjaga. Kalau ada yang beribadah, kita saling menghormati,” katanya.
Abdul Sahid juga menyoroti meningkatnya kasus intoleransi di kalangan pelajar, termasuk perundungan yang terjadi di sejumlah daerah. Kondisi tersebut menurutnya, menjadi perhatian bersama dan mendorong lahirnya berbagai program penguatan nilai kedamaian, salah satunya Sekolah Damai.
Ia menegaskan, moderasi beragama harus dipahami secara holistik dan komprehensif. Konsep ini tidak hanya mencakup hubungan antarumat beragama, tetapi juga nilai toleransi, antikekerasan, serta penghargaan terhadap budaya lokal.
“Moderasi beragama itu bukan hanya antaragama, tetapi bagaimana kita memahami toleransi dan antikekerasan secara menyeluruh,” tegasnya.

