Insitekaltim, Samarinda – Dibukanya kembali portal pembatas kendaraan di Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) pada Sabtu, 31 Januari 2026, disambut positif oleh para sopir kendaraan roda enam yang selama beberapa hari terakhir terdampak penutupan akses tersebut.
Salah satunya Fajar Adwi, sopir truk roda enam yang melintas di Jembatan Mahulu untuk aktivitas distribusi barang di Samarinda. Ia mengaku lega dan senang setelah akses utama tersebut kembali dibuka.
“Alhamdulillah kami sangat senang. Dari kemarin-kemarin kami cukup kesulitan karena harus mutar jauh. Dibuka lagi Mahulu ini sangat membantu kami,” ujarnya Senin, 2 Februari 2026.
Menurut Fajar, Jembatan Mahulu memiliki peran penting bagi kelancaran distribusi logistik. Penutupan sementara membuat waktu tempuh lebih lama dan berdampak langsung pada biaya operasional para sopir.
“Kalau harus mutar lewat jembatan lain, solar nambah, waktu juga lebih lama. Sekarang dibuka, kami bisa kerja lebih lancar,” ujarnya.
Fajar juga menyatakan para sopir memahami langkah kehati-hatian pemerintah dalam menjaga keselamatan jembatan. Ia menegaskan pihaknya siap mengikuti aturan yang ditetapkan, termasuk pembatasan tonase kendaraan.
“Kami juga tidak mau jembatannya rusak. Kalau sudah ada aturan batas tonase, ya kami ikuti. Yang penting aksesnya dibuka dan kami bisa lanjut cari nafkah,” jelasnya.
Sebelumnya, mengingat pada Sabtu 31 Januari 2026, Kepala Bidang Bina Marga DPUPR-Pera Kalimantan Timur (Kaltim) Muhammad Muhran menjelaskan, keputusan membuka kembali portal Jembatan Mahulu diambil setelah dilakukan uji geometri pasca insiden tabrakan ketiga.
“Waktu tabrakan ketiga itu, kami langsung melakukan uji geometri. Secara visual pilar masih tegak lurus dan masih dalam toleransi aman. Lantai expansion joint juga masih rata, tidak ada perubahan,” ujar Muhran.
Muhran menegaskan pembukaan portal dilakukan untuk mendukung kepentingan masyarakat dan menjaga kelancaran roda perekonomian, mengingat Jembatan Mahulu merupakan jalur utama logistik di Kota Samarinda.
Meski dibuka, DPUPR-Pera tetap menerapkan prinsip kehati-hatian. Secara teknis, pihaknya tidak merekomendasikan kendaraan dengan beban di atas 8 ton melintas di jembatan tersebut.
“Kami sebenarnya tidak merekomendasikan di atas 8 ton. Tapi melihat situasi dan kondisi, kami juga mempertimbangkan kebutuhan masyarakat,” ujar Muhran.
Lebih lanjut, ia menambahkan pengujian lanjutan berupa uji dinamik dan non-destructive test (NDT) tetap akan dilakukan untuk memastikan kondisi struktur jembatan secara menyeluruh. Saat pengujian berlangsung, jembatan kemungkinan akan ditutup sementara.
DPUPR-Pera berharap seluruh pengguna jalan, termasuk sopir angkutan barang, dapat mematuhi ketentuan yang berlaku demi menjaga keselamatan dan keberlangsungan infrastruktur strategis tersebut.

