Reporter : Ahmad – Editor : Redaksi
Insitekaltim, Paser– Model pendidikan pada masa Covid-19 di Kabupaten Paser yang dilakukan secara online dianggap efektif untuk mencegah dan menekan penyebaran virus corona.
Namun di sisi lain, solusi pendidikan secara daring ini masih menimbulkan persoalan. Mulai masalah kemampuan siswa membeli paket data sampai pada persoalan jaringan internet.
Keluhan ini sempat dialami oleh wali murid sekolah SLTA yang ada di Kecamatan Kuaro.
Salah seorang siswa mengatakan kadang kala kesulitan disebabkan karena jaringan yang tiba-tiba gangguan. Sedangkan waktu pelajaran dimulai dengan mengisi absen dan tidak boleh terlambat.
Siswa itu membenarkan bahwa sempat gurunya mengirimkan voice note melalui grup whatsapp kelas untuk memberikan peringatan keras. Jika terlambat lagi, maka akan dikeluarkan dari group classroom di salah satu mata pelajaran.
Murid tersebut kaget dengan hasil pesan peringatan tersebut, sehingga wali murid merasa tertekan dengan peringatan yang diberikan oleh guru tersebut.
Ketua Lembaga Pemuda Peduli Pendidikan dan Sosial (LP3S) Ahmad Safrudin menyayangkan cara peringatan guru tersebut. Seharusnya peringatan itu tidak perlu disampaikan dengan tekanan yang terlalu tinggi, sehingga menimbulkan kegelisahan dan ketakutan pada proses pendidikan siswa.
“Peringatan keras tanpa mendengar alasan siswa sangat tidak tepat. Hal seperti ini jangan sampai terjadi,” pintanya.
Gangguan pelajaran daring sering terjadi pada jaringan, sehingga perlu koordinasi dan sikap mental yang lebih tenang dari para guru.
“Pemerintah harus bisa melihat kondisi saat ini. Keluhan para orang tua dan wali murid perlu kebijakan yang bisa meningkatkan nilai pendidikan dan juga moralitas, terlebih moralitas guru,” sindirnya.
