Insitekaltim, Samarinda – Harga gas elpiji (LPG) 3 kg di Kota Samarinda dilaporkan mengalami lonjakan signifikan pada hari ketiga Lebaran, Senin 23 Maret 2026. Kondisi ini terjadi meski pemerintah sebelumnya memastikan stok dalam keadaan aman.
Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri menjelaskan, kekosongan LPG yang sempat ditemukan saat peninjauan di salah satu pangkalan disebabkan keterlambatan pasokan dari distributor.
Ia menyebut, saat dilakukan pengecekan di pangkalan Jalan Pattimura, Samarinda Seberang, Rabu 11 Maret 2026, stok LPG kebetulan sedang habis karena masih menunggu pengiriman.
Saefuddin menegaskan, secara umum ketersediaan LPG 3 kilogram di Samarinda tidak mengalami kelangkaan. Distribusi dari distributor ke pangkalan disebut tetap berjalan normal tanpa adanya laporan kekurangan.
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan hal berbeda. Sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh LPG dengan harga wajar. Di tingkat pengecer, harga gas bersubsidi tersebut melonjak hingga Rp43 ribu sampai Rp50 ribu per tabung, jauh di atas harga normal.
Seorang warga mengungkapkan, kelangkaan di tingkat pengecer membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan selain membeli dengan harga tinggi untuk memenuhi kebutuhan memasak selama Lebaran.
Di sisi lain, penjual eceran mengakui kenaikan harga dipicu oleh terbatasnya pasokan yang mereka terima, terutama selama periode libur Lebaran. Tingginya permintaan masyarakat juga turut memengaruhi harga di pasaran.
Menurut mereka, ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan membuat harga LPG kg tidak dapat dikendalikan di tingkat pengecer.
Lonjakan konsumsi LPG selama Lebaran, khususnya untuk kebutuhan memasak, menjadi salah satu faktor utama meningkatnya permintaan. Kondisi ini diperparah dengan distribusi yang tidak berjalan optimal pada awal masa libur.
Meski pemerintah memastikan stok dalam kondisi aman, masyarakat berharap adanya pengawasan lebih ketat terhadap distribusi dan harga LPG 3 kg di lapangan. Hal ini dinilai penting untuk mencegah lonjakan harga yang memberatkan, terutama bagi warga berpenghasilan menengah ke bawah.
