Insitekaltim,Samarinda -Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, akan menaikan status desa tertinggal yang berada di Kabupaten Kutai Barat, dengan mengorbankan pengalihan pembangunan Bongan–Sotek, menuju Ibu Kota Nusantara, PPU dan Balikpapan.
Desa Tanjung Soke, Deraya, Gerunggung, dan Lemper selama ini seperti berjalan tertatih. Tiga desa berstatus tertinggal. Lemper memang sudah naik menjadi desa berkembang, tapi soal akses jalan, kondisinya tak banyak berbeda. Sama-sama sulit.
Keempat desa tersebut setelah ada laporan diterima Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, dalam rapat rutin dua pekan lalu.
Awalnya, Pemprov Kaltim memprioritaskan jalur Sotek–Bongan sepanjang 103 kilometer untuk memperpendek konektivitas Penajam Paser Utara dan Kutai Barat menuju IKN dan Balikpapan. Namun peta prioritas berubah.
“Tetap Bongan–Sotek jadi perhatian. Tapi empat desa ini lebih mendesak. Anggaran kita geser,” ujar Rudy Mas’ud, belum lama ini.
Keputusan itu langsung diikuti angka konkret. Tahun ini, Rp101,1 miliar disiapkan untuk membangun jalan Bongan–Gerunggung sepanjang 22 kilometer. Bukan tambal sulam, tapi pembangunan yang ditargetkan benar-benar membuka akses.
Namun bagi warga, jalan bukan sekadar urusan aspal. Ini soal harga sembako yang bisa ditekan, hasil kebun yang lebih mudah dijual, anak-anak yang tak lagi terjebak lumpur saat berangkat sekolah, dan ambulans yang bisa melaju tanpa was-was.
Meski begitu, ada ganjalan administratif. Status jalan masih jalan kabupaten. Artinya, perlu pengalihan status jalan menjadi jalan provinsi atau skema lain yang sah agar pembangunan bisa dilakukan tanpa melanggar aturan.
“Pekerjaan ini harus sesuai koridor aturan. Tapi percepatan dan hasil nyata itu wajib,” ungkap Gubernur Kaltim.
Lebih jauh, ungkap Rudy Mas’ud jika 22 kilometer ini rampung, dampaknya tak kecil. Indeks Desa Membangun berpeluang naik. Status desa tertinggal bisa terangkat. Target besarnya: tak ada lagi desa tertinggal di Kaltim.
“Sementara jalur Bongan–Sotek tetap disimpan dalam rencana. Ketika ruang fiskal memungkinkan, proyek itu akan kembali dibuka,”terangnya.
Untuk empat desa di Bongan, Rp101 miliar tahun ini bukan sekadar angka di APBD. Itu adalah peluang untuk keluar dari isolasi yang sudah terlalu lama mereka tanggung.
“Sementara jalur Bongan–Sotek tetap disimpan dalam rencana. Ketika ruang fiskal memungkinkan, proyek itu akan kembali dibuka,”terangnya.
