Reporter: Nada – Editor: Redaksi
Insitekaltim, Samarinda – Sejak tahun 90-an, Asmadi (72) sudah tinggal di bantaran Sungai Karang Mumus (SKM) tepatnya di Jalan Abdul Muthalib, Kelurahan Sungai Pinang Luar, Kecamatan Samarinda Kota.
Beralaskan kasur tipis dengan dinding kayu yang bercelah, Asmadi menghabiskan waktu istirahatnya terlelap di sebuah gubuk sederhana yang dibangun dari material seadanya. Ukurannya pun tak seberapa, 3×2 meter.

“Dindingnya saya tambal material seng yang tidak dipakai atau dikasih sama orang,” ungkap Asmadi saat disambangi oleh wartawan, Kamis (13/2/2020).
Di gubuk tersebut, dirinya tidur dengan suasana gelap tanpa penerangan atau terkadang ia menyalakan lampu teplok untuk menerangi kamar tidurnya.
Dalam gubuk Asmadi, terlihat ada beberapa pakaian bergantung dan peralatan memasak seadanya yang tergeletak tak beraturan.

“Untuk mandi, saya masih bergantung pada sungai,” katanya lirih.
Pria parubaya tersebut bekerja menjadi kuli pikul air di Pasar Sungai Dama dan Pasar Pesut. Penghasilannya pun tak seberapa, mulai dari 5.000 rupiah hingga 20.000 rupiah.
Asmadi bercerita, dirinya memiliki keluarga yang tinggal di Samarinda. Namun alasan personal ia memilih ‘mengasingkan’ diri di gubuk kecilnya.
“Saya anak ke-3 dari 6 bersaudara. Saya pernah bantu-bantu saudara, tapi tidak ada upah yang saya terima. Cuman makan untuk hari-hari saja yand diberi,” tambahnya.
Dirinya pun mengulas riwayat hidupnya, yaitu sekitar tahun 70-an ia pernah membina rumah tangga dan dikaruniai 2 orang anak.
“Tapi saya tinggal karena tidak mau ikut dengan saya untuk tinggal di Samarinda. Mereka tinggal di Berau,” lanjutnya.
Terlihat sendirian dan berusia cukup tua membuat beberapa pihak kasihan dengan Asmadi. Salah satunya ialah pedagang gorengan Fatimah (52).

Fatimah mengaku iba melihat Asmadi hidup sendiri, bekerja sebagai kuli ditengah umur senja yang seharusnya hanya istirahat di rumah.
“Kaik Asmadi ini selalu datang ke warung pagi-pagi pakai sepeda. Dia (Asmadi) kalau makan di sini, nanti bantu-bantu saya angkat air. Kadang saya kasih uang juga,” tutur Fatimah.
Fatimah menyampaikan bahwa Asmadi sering menawarkan jasanya kepada pedagang untuk bantu-bantu. Dari hasil pikul dagangan, cukup buat Asmadi menyambung hidup hari-hari.
“Kaik bilang katanya ada yang kasih 50.000 rupiah atau 20.000 rupiah. Uangnya disimpan, buat beli beras dan lauk,” terangnya.
Fatimah berinisiatif untuk mengunggah kondisi Asmadi ke media sosial Facebook hingga akhirnya Dinas Sosial (Dinsos) Kota Samarinda pun membawa Asmadi ke panti jompo. Namun, Asmadi memilih pulang karena kepikiran soal gubuknya.
Dengan alasan ingin mencuci pakaiannya di gubuk, Fatimah menjemput Asmadi dari panti jompo kembali ke gubuknya.
“Yah itu keputusannya kaik, dia mau di sini (gubuknya) atau di panti jompo, tapi lebih baik jika ada keluarga dia yang mau merawat,” pungkasnya.
