Insitekaltim, Samarinda – Kegiatan buka puasa bersama yang digelar komunitas pengusaha Nahdlatul Ulama (NU) di Kalimantan Timur (Kaltim) dimanfaatkan sebagai ajang mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat kolaborasi bisnis antaranggota.
Kegiatan tersebut diselenggarakan langsung oleh Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Kaltim yang diketuai oleh Samsudin Saputro dan dihadiri puluhan pengusaha dari berbagai latar belakang usaha di wilayah Kaltim.
Sekretaris HPN Kaltim Sobirin Bagus mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang berkumpul, tetapi juga ruang strategis untuk membangun jejaring bisnis.
“Sekitar 40 pengusaha hadir dalam kegiatan ini. Tujuannya bukan hanya untuk silaturahmi, tapi juga sharing bisnis dan saling bertukar informasi,” ujarnya, Rabu, 18 Maret 2026.
Menurutnya, kegiatan bukber dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengusaha untuk membuka peluang kerja sama.
Para peserta berasal dari berbagai sektor usaha, mulai dari konstruksi, perdagangan, hingga peternakan.
“Di sana kita saling bertukar informasi dan mencocokkan peluang usaha. Ada yang bergerak di bidang beton, properti, peternakan, hingga usaha lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, konsep matching business menjadi fokus utama dalam pertemuan tersebut. Melalui konsep ini, para pengusaha dapat menemukan peluang kolaborasi yang sesuai dengan bidang usaha masing-masing.
“Melalui pertemuan ini, kita ingin menciptakan koneksi yang kuat antar pengusaha, sehingga bisa saling menguatkan dan membuka peluang baru,” katanya.
Selain membahas kolaborasi usaha, Sobirin juga menyoroti isu efisiensi anggaran yang saat ini menjadi perhatian. Ia menilai, para pengusaha NU memiliki pandangan tersendiri dalam menyikapi kondisi tersebut.
“Kalau di pengusaha NU, kita punya keyakinan sendiri. Kita percaya bahwa rezeki sudah diatur, jadi tidak terlalu khawatir dengan adanya efisiensi,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ekonomi yang menantang justru dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk tetap berkembang, selama mampu melihat dan memanfaatkan celah yang ada.
Ia mencontohkan situasi saat pandemi COVID-19, di mana banyak pihak menganggap ekonomi melemah, namun di sisi lain ada pelaku usaha yang justru mampu bertahan bahkan berkembang.
“Waktu COVID dulu banyak yang bilang ekonomi sulit, tapi kenyataannya ada juga yang justru bangkit dan mendapatkan keuntungan,” jelasnya.
Sobirin menilai efisiensi anggaran seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat agar lebih bijak dalam mengelola keuangan.
“Ini lebih ke peringatan agar kita lebih hati-hati dalam membelanjakan uang, bukan untuk membuat kita khawatir berlebihan,” tambahnya.
Dengan adanya kegiatan seperti bukber ini, ia berharap para pengusaha dapat terus memperkuat jaringan, meningkatkan kolaborasi, serta tetap optimistis dalam menghadapi tantangan ke depan.
“Yang penting kita tetap berusaha dan tidak pesimis, karena selalu ada peluang di setiap kondisi,” tutupnya.
