Insitekaltim, Samarinda – Jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Samarinda mencapai puncaknya pada September 2026, dengan 12.819 kasus. Pada periode tersebut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga marak terjadi di sejumlah wilayah.
Angka itu bertambah 4.209 kasus dibandingkan Juli yang mencatat 8.610 kasus. Kenaikan juga terjadi pada Agustus dengan 10.681 kasus, sebelum jumlahnya melonjak pada bulan berikutnya.
Memasuki Oktober, laporan kasus ISPA masih terus bertambah. Data aplikasi e-Dinkes yang menghimpun laporan seluruh puskesmas menunjukkan, terdapat 4.664 kasus selama periode 1–11 Oktober 2026.
Total kasus yang tercatat sejak Juli hingga 11 Oktober mencapai 36.774 kasus. Meski belum bisa memastikan keterkaitan langsung dengan kabut asap, tren tersebut menjadi perhatian karena berlangsung bersamaan dengan musim kemarau dan kebakaran lahan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, Ismid Kusasih, mengatakan angka ISPA perlu dipahami berdasarkan kriteria diagnosis. Tidak semua pasien yang masuk dalam pencatatan ISPA mengalami gangguan pernapasan akibat polusi atau asap kebakaran.
“Penyebabnya tidak bisa langsung dipastikan kabut asap, karena beberapa kriteria yang membuat suatu kasus masuk dalam kategori ISPA,” Ungkapnya, Kamis, 15 Oktober 2026.
Menurut Ismid, kenaikan jumlah kasus tetap perlu direspons melalui langkah pencegahan, terutama ketika masyarakat menghadapi kondisi udara yang berasap. Mengurangi paparan polusi dinilai penting agar risiko gangguan pernapasan tidak semakin besar.
Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah menyesuaikan kegiatan sehari-hari dengan kualitas udara. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) maupun pembatasan aktivitas luar ruangan dapat menjadi pilihan ketika kondisi lingkungan tidak mendukung kegiatan di luar rumah.
“Kita melihat kenaikan kasusnya ketika karhutla terjadi. Karena itu, pencegahan jauh lebih baik dilakukan sebelum dampaknya semakin besar,” Ucap Ismid.
Di sisi lain, Dinkes Samarinda menilai pelayanan kesehatan masih mampu menangani sebagian besar pasien ISPA. Puskesmas tetap menjadi fasilitas kesehatan tingkat pertama yang menangani banyak keluhan tersebut.
Ismid menjelaskan, indikator kondisi terkendali yang dimaksud merujuk pada kemampuan fasilitas kesehatan menangani mayoritas kasus. Berdasarkan data rumah sakit, belum terlihat peningkatan signifikan pada penyakit berat yang berkaitan dengan ISPA.
“Dari data rumah sakit, belum terlihat kenaikan signifikan untuk penyakit-penyakit berat yang berkaitan dengan ISPA,” Jelasnya.
Meski begitu, masyarakat diminta tidak menunggu hingga keluhan memburuk untuk mencari pertolongan medis. Gangguan pernapasan yang semakin berat atau tidak kunjung membaik perlu diperiksakan agar mendapatkan penanganan sesuai kondisi pasien.
Warga juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap semakin pekat dan meminimalkan paparan polusi. Langkah pencegahan tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi udara di lingkungan masing-masing.
“Kegiatan di luar ruangan perlu disesuaikan dengan kondisi udara, terutama ketika asap karhutla sedang meningkat,” demikian Ismid. (ADV)

