Insitekaltim, Samarinda – Belum pulihnya kualitas udara akibat asap kebakaran lahan membuat 27 sekolah di Samarinda menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kebijakan ini masih bergantung pada kondisi udara di sekitar sekolah, sehingga belum ada kepastian kapan kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung normal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Eko Suprayetno, mengatakan sekolah harus mempertimbangkan kondisi lingkungan sebelum menggelar pembelajaran tatap muka. Wilayah Palaran dan Sambutan menjadi kawasan dengan jumlah sekolah yang paling banyak menerapkan PJJ berdasarkan laporan yang diterima dinas.
Durasi pembelajaran dari rumah juga tidak bisa ditentukan sejak awal. Sebelumnya, PJJ sempat diberlakukan selama tiga hari, tetapi kualitas udara belum membaik setelah masa tersebut berakhir.
“Kalau hujan segera turun, kemudian pembakaran lahan juga tidak terjadi, ini semakin cepat kondisi kualitas udara kita membaik,” ujarnya.
Eko menjelaskan, keputusan melanjutkan PJJ atau kembali ke pembelajaran tatap muka diserahkan kepada sekolah dengan mempertimbangkan rekomendasi puskesmas setempat. Sekolah juga wajib melaporkan kondisi tersebut kepada Disdikbud sebagai bahan pemantauan dan evaluasi.
“Jadi sekolah mendasarkan kepada rekomendasi dari Puskesmas, kemudian menyampaikan laporan tersebut kepada dinas untuk kita melakukan monitoring dan evaluasi,” katanya.
Disdikbud Samarinda turut berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Dinas Kesehatan untuk mengikuti perkembangan kualitas udara.
Sekolah di luar Palaran dan Sambutan pun dapat menerapkan PJJ apabila kondisi udara di wilayahnya memburuk. Langkah tersebut tidak harus menunggu surat edaran baru, tetapi perlu didukung data dan rekomendasi puskesmas.
Potensi memburuknya kondisi udara masih perlu diwaspadai. Eko menyebut kemunculan titik api baru di sejumlah kawasan, termasuk Kutai Kartanegara dan sekitar Bukit Soeharto, dapat berdampak terhadap kualitas udara Samarinda.
Di tengah penerapan PJJ, keterbatasan sarana pembelajaran masih menjadi kendala. Guru mengandalkan telepon pintar untuk menyampaikan materi dan memberikan tugas kepada siswa selama kegiatan belajar berlangsung dari rumah.
“Selama ini masih menggunakan sarana-prasarana yang sangat sederhana seperti smartphone masing-masing, smartphone guru digunakan untuk melakukan pembelajaran atau memberikan penugasan-penugasan terhadap siswa,” katanya.
Eko meminta orang tua turut mendampingi anak selama PJJ dan membatasi aktivitas mereka di luar ruangan. Sementara itu, sekolah yang masih menggelar pembelajaran tatap muka diminta mewajibkan penggunaan masker, membatasi kegiatan luar kelas, serta memastikan ventilasi ruang belajar berfungsi dengan baik.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan karena asapnya dapat memperburuk kualitas udara dan mengganggu kesehatan warga. Aktivitas pembakaran yang melanggar hukum dapat berujung pada proses pidana. (ADV)

