Insitekaltim, Samarinda – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda terus melakukan pemasangan dan pemeliharaan penerangan jalan umum (PJU) di sejumlah ruas jalan. Namun, kebutuhan penerangan masih cukup besar karena terdapat ribuan titik yang perlu ditangani.
Kepala Dishub Kota Samarinda Hotmarulitua Manalu mengatakan, pemasangan PJU dilakukan secara bertahap menyesuaikan ketersediaan anggaran.
“Tahun ini kan sedikit. Ya dana yang ada Rp14 M,” ujar Manalu Rabu, 30 September 2026.
Menurutnya, pemasangan PJU saat ini tersebar di sejumlah wilayah Kota Samarinda, termasuk kawasan Samarinda Utara dan beberapa ruas jalan kota. Salah satu ruas yang disebut telah mendapat pemasangan PJU berada di Jalan Yos Sudarso.
Manalu mengatakan kebutuhan penerangan jalan di Samarinda masih cukup besar. Untuk ruas-ruas jalan protokol saja, terdapat sekitar 8.000 titik yang membutuhkan layanan penerangan.
Karena itu, pemerintah kota menyiapkan sejumlah ruas sebagai prioritas pada tahun berikutnya. Beberapa di antaranya yakni Jalan S. Parman, Jalan Pahlawan, dan Jalan Bhayangkara.
Selain menambah titik penerangan, Dishub juga berencana melakukan peremajaan tiang PJU lama apabila tersedia anggaran. Ruas yang disebut menjadi perhatian antara lain Jalan Ahmad Yani, Antasari, dan Juanda.
“Kalau memang ada tersedia anggaran lagi adalah melakukan peremajaan tiang-tiang PJU yang lama seperti di Jalan Ahmad Yani, Antasari, Juanda,” katanya.
Terkait kondisi sejumlah ruas yang masih gelap, Manalu menjelaskan persoalan tersebut tidak selalu disebabkan oleh belum tersedianya lampu. Gangguan juga dapat terjadi pada sistem kelistrikan maupun pengaturan waktu menyala dan matinya lampu.
Ia mencontohkan kondisi penerangan di Jalan M. Yamin. Menurutnya, terdapat bagian ruas yang sistem penerangannya sudah terpasang, namun lampu terkadang mengalami gangguan akibat perubahan tegangan listrik.
Perubahan tegangan dari PLN dapat memengaruhi pengaturan time switch yang mengatur waktu operasional lampu.
Selain persoalan teknis, Dishub juga menemukan adanya tindakan oknum yang mematikan saklar penerangan secara sengaja.
“Jadi kadang-kadang ya petugas kita yang monitor, dia jeglek itu saklarnya. Saklarnya ada dimatikan, jadi tiang kadang-kadang mati,” ungkapnya.
Manalu menyebut pengawasan dilakukan melalui laporan masyarakat maupun pemantauan langsung oleh petugas. Ia mengaku juga kerap melakukan pemantauan kondisi PJU pada malam hari.
Jika gangguan disebabkan saklar yang terputus, petugas dapat kembali mengaktifkannya. Sementara untuk gangguan time switch, pengaturan akan disesuaikan kembali.
Dishub berharap penanganan PJU dapat dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran. Penambahan titik penerangan dan peremajaan infrastruktur lama diarahkan untuk meningkatkan kualitas penerangan di ruas-ruas jalan yang menjadi jalur utama masyarakat.

