Insitekaltim – Di era digital yang serba cepat, melakukan beberapa tugas dalam satu waktu (multitasking) sering dianggap sebagai kemampuan yang membanggakan.
Mulai dari bekerja sambil mengecek media sosial, menonton video saat makan, hingga mengikuti beberapa panggilan rapat daring (zoom) sekaligus. Namun, dari sudut pandang kesehatan saraf dan kognitif, kebiasaan ini justru dapat membawa dampak buruk bagi kinerja otak.
Praktisi kesehatan Tirta Mandira Hudhi menegaskan, otak manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk memproses beberapa tugas secara bersamaan dalam jangka waktu panjang.
”Otak manusia itu pada dasarnya tidak seperti CPU yang dirancang untuk multitasking secara bersamaan dalam waktu terus-terusan. Boleh multitasking, tapi tidak boleh terlalu sering-sering karena ternyata multitasking yang dilakukan secara terus-menerus berdasarkan paper itu meningkatkan beban kerja otak di korteks prefrontal sehingga mempendek attention span serta menurunkan kapasitas memori kerja.” ujarnya melalui kanal Youtube yang diunggah pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Tirta menjelaskan, apa yang sering kita anggap sebagai multitasking sebenarnya adalah task switching, yaitu peralihan fokus dan tugas secara cepat dari satu hal ke hal lain.
Ketika seseorang memaksakan diri untuk memproses banyak input bersamaan (seperti mengikuti tiga panggilan rapat sekaligus), hal tersebut bukannya meningkatkan efisiensi, melainkan justru menurunkan kemampuan kognitif.
Beban kerja berlebih pada korteks prefrontal (area otak yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah) membuat otak menjadi cepat lelah dan rentan mengalami penurunan daya ingat.
Bukan hanya dalam urusan pekerjaan, kebiasaan multitasking yang sering diabaikan justru dimulai dari aktivitas sehari-hari, seperti makan sambil menonton televisi atau bermain ponsel.
”Contoh multitasking yang sering dilakukan anak kecil adalah makan sambil nonton TV, makan sambil nonton YouTube, makan sambil main HP. Kalau ada orang makan sambil main HP biasanya otaknya lemot, cepat emosian.” tegasnya.
Saat perhatian terbagi antara mengunyah makanan dan menyerap informasi dari layar ponsel, fokus otak terpecah. Hal ini menghambat kesadaran penuh (mindfulness) saat makan dan mengganggu proses pemrosesan informasi yang optimal.
Untuk menghindari penurunan kapasitas memori dan gangguan konsentrasi (attention span), penting bagi kita untuk mulai mengurangi kebiasaan multitasking. Beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya, Selesaikan satu pekerjaan terlebih dahulu sebelum beralih ke tugas berikutnya, hindari gadget saat makan, biasakan menikmati makanan tanpa gangguan layar HP atau TV untuk melatih fokus dan beri jeda saat Task Switching. Jika harus berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain, beri jeda beberapa menit agar otak dapat memulihkan kesiapan fokusnya.

