Close Menu
insitekaltim.com

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Bahaya Multitasking Berlebihan, Kognitif Menurun hingga Memori Cepat Lemot

    Agustus 28, 2026

    Dishub Samarinda Finalisasi Parkir Berlangganan, Target Awal 300 Ribu Kendaraan

    Agustus 28, 2026

    Komisi III DPRD Samarinda Akan Panggil Dishub Bahas Antrean BBM

    Agustus 28, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    Facebook X (Twitter) Instagram
    insitekaltim.cominsitekaltim.com
    • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Politik
    • Pemerintah
    • ADVETORIAL
      • Diskominfo Kaltim
      • Diskominfo Kutim
      • DPRD Bontang
      • DPRD Kaltim
      • DPRD Kutim
      • DPRD Samarinda
      • Kemenkum Kaltim
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Kesehatan
    insitekaltim.com
    Home»Lifestyle»Kesehatan»Bahaya Multitasking Berlebihan, Kognitif Menurun hingga Memori Cepat Lemot
    Kesehatan

    Bahaya Multitasking Berlebihan, Kognitif Menurun hingga Memori Cepat Lemot

    Ratu ArifanzaBy Ratu ArifanzaAgustus 28, 202602 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Teks: Praktisi kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi saat memaparkan terkait bahasa Multitasking. (Tangkapan layar Youtube @TirtaPengPengPeng)
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn WhatsApp Pinterest Email

    Insitekaltim – ​Di era digital yang serba cepat, melakukan beberapa tugas dalam satu waktu (multitasking) sering dianggap sebagai kemampuan yang membanggakan.

    Mulai dari bekerja sambil mengecek media sosial, menonton video saat makan, hingga mengikuti beberapa panggilan rapat daring (zoom) sekaligus. Namun, dari sudut pandang kesehatan saraf dan kognitif, kebiasaan ini justru dapat membawa dampak buruk bagi kinerja otak.

    ​Praktisi kesehatan Tirta Mandira Hudhi menegaskan, otak manusia pada dasarnya tidak dirancang untuk memproses beberapa tugas secara bersamaan dalam jangka waktu panjang.

    ​”Otak manusia itu pada dasarnya tidak seperti CPU yang dirancang untuk multitasking secara bersamaan dalam waktu terus-terusan. Boleh multitasking, tapi tidak boleh terlalu sering-sering karena ternyata multitasking yang dilakukan secara terus-menerus berdasarkan paper itu meningkatkan beban kerja otak di korteks prefrontal sehingga mempendek attention span serta menurunkan kapasitas memori kerja.” ujarnya melalui kanal Youtube yang diunggah pada Jumat, 28 Agustus 2026.

    ​Tirta menjelaskan, apa yang sering kita anggap sebagai multitasking sebenarnya adalah task switching, yaitu peralihan fokus dan tugas secara cepat dari satu hal ke hal lain.
    ​
    Ketika seseorang memaksakan diri untuk memproses banyak input bersamaan (seperti mengikuti tiga panggilan rapat sekaligus), hal tersebut bukannya meningkatkan efisiensi, melainkan justru menurunkan kemampuan kognitif.

    ​Beban kerja berlebih pada korteks prefrontal (area otak yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah) membuat otak menjadi cepat lelah dan rentan mengalami penurunan daya ingat.

    ​Bukan hanya dalam urusan pekerjaan, kebiasaan multitasking yang sering diabaikan justru dimulai dari aktivitas sehari-hari, seperti makan sambil menonton televisi atau bermain ponsel.

    ​”Contoh multitasking yang sering dilakukan anak kecil adalah makan sambil nonton TV, makan sambil nonton YouTube, makan sambil main HP. Kalau ada orang makan sambil main HP biasanya otaknya lemot, cepat emosian.” tegasnya.

    ​Saat perhatian terbagi antara mengunyah makanan dan menyerap informasi dari layar ponsel, fokus otak terpecah. Hal ini menghambat kesadaran penuh (mindfulness) saat makan dan mengganggu proses pemrosesan informasi yang optimal.

    ​Untuk menghindari penurunan kapasitas memori dan gangguan konsentrasi (attention span), penting bagi kita untuk mulai mengurangi kebiasaan multitasking. Beberapa hal yang perlu dilakukan diantaranya, Selesaikan satu pekerjaan terlebih dahulu sebelum beralih ke tugas berikutnya, hindari gadget saat makan, biasakan menikmati makanan tanpa gangguan layar HP atau TV untuk melatih fokus dan beri jeda saat Task Switching. Jika harus berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lain, beri jeda beberapa menit agar otak dapat memulihkan kesiapan fokusnya.

     

    dr Tirta Mandira Hudhi Kesehatan Multitasking YouTube
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Telegram
    Ratu Arifanza

    Related Posts

    Revisi Perda HIV/AIDS Kaltim Diminta Lebih Komprehensif dan Aplikatif

    Agustus 27, 2026

    Musim Panas, Karhutla Jadi Ancaman Penyakit Saluran Pernapasan Meningkat, Dinkes Minta Warga Waspada

    Agustus 26, 2026

    Kasus ISPA di Samarinda Naik 22,8 Persen, Dinkes Minta Warga Waspada Dampak Karhutla

    Agustus 25, 2026

    32 Ibu dan 301 Bayi Meninggal, Kaltim Soroti Koordinasi Rujukan Antarwilayah

    Agustus 24, 2026

    Asap Karhutla Mengancam, Kasus ISPA Kaltim Tembus 216 Ribu

    Agustus 23, 2026

    Festival Merah Putih Kaltim Sediakan CKG, Warga Untuk Periksa Kesehatan Dasar

    Agustus 22, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply

    Anda harus masuk untuk berkomentar.

    @insitekaltim_
    Don't Miss

    Bahaya Multitasking Berlebihan, Kognitif Menurun hingga Memori Cepat Lemot

    Ratu ArifanzaAgustus 28, 2026

    Insitekaltim – ​Di era digital yang serba cepat, melakukan beberapa tugas dalam satu waktu (multitasking)…

    Dishub Samarinda Finalisasi Parkir Berlangganan, Target Awal 300 Ribu Kendaraan

    Agustus 28, 2026

    Komisi III DPRD Samarinda Akan Panggil Dishub Bahas Antrean BBM

    Agustus 28, 2026

    Karhutla Purwajaya Terkendala Medan, Aparat Gabungan Lakukan Pemadaman Manual

    Agustus 28, 2026

    UMKM Kaltim Butuh Modal dan Pelatihan, Mirni Dorong Solusi Lewat Koperasi

    Agustus 28, 2026
    1 2 3 … 3,304 Next
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Redaksi
    • Kode Etik
    • Pedoman
    • Kode Perilaku Perusahaan
    © 2026 InsiteKaltim.com

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.