Insitekaltim, Samarinda — Keluhan nyeri dada sering kali menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat karena identik dengan serangan jantung. Namun, kondisi tersebut tidak selalu berkaitan dengan gangguan pada organ jantung.
Hal tersebut disampaikan Dokter Tirta dalam sesi edukasi terkait gejala serupa juga dapat muncul pada penderita gastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit asam lambung yang diunggah di kanal Youtube Tirta PengPengPeng Minggu, 22 Februari 2026.
Ia menerangkan bahwa jantung secara anatomi memiliki empat ruang, yakni dua atrium (serambi) dan dua ventrikel (bilik). Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terhambat akibat adanya sumbatan pada pembuluh darah koroner. Kondisi ini merupakan masalah serius yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Menurutnya, GERD adalah gangguan pada sistem pencernaan yang terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan (esofagus) akibat katup lambung yang melemah. Asam lambung memiliki sifat korosif dengan tingkat keasaman (pH) sekitar 1–3, sehingga dapat menimbulkan sensasi panas pada dada atau yang dikenal sebagai heartburn.
“GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik ke esofagus dan menimbulkan sensasi panas di dada. Rasanya seperti terbakar dan sering kali disertai rasa pahit di mulut,” jelasnya.
Di sisi lain, pada beberapa kasus lainnya, keluhan GERD dapat menimbulkan nyeri pada setengah bagian dada hingga menjalar ke lengan dan menimbulkan sensasi kesemutan. Gejala inilah yang kerap membuat masyarakat sulit membedakan antara gangguan asam lambung dan serangan jantung.
“Gejalanya memang bisa tampak sangat mirip, seperti nyeri dada. Namun, penyebabnya berbeda. Asam lambung tidak masuk ke jantung dan tidak menyebabkan serangan jantung,” tegasnya.
Ia menambahkan, serangan jantung umumnya ditandai dengan rasa tertekan atau tertindih di dada, sesak napas, keringat dingin, serta nyeri yang menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang.
Sementara itu, keluhan GERD sering muncul setelah makan, terutama jika makan dalam porsi yang berlebihan, terlambat makan, atau langsung berbaring setelah makan.
Dokter tersebut juga berpesan untuk mengingatkan pentingnya menjaga pola makan yang teratur serta tidak mengonsumsi makanan secara berlebihan.
“Makan terlalu banyak atau tidak teratur dapat memicu peningkatan produksi asam lambung,” ujarnya.
Sebagai upaya pencegahan, masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup sehat, menjaga berat badan ideal, serta mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih. Meski demikian, apabila nyeri dada muncul secara tiba-tiba dan disertai gejala berat, masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis guna memastikan diagnosis apa dan mendapatkan penanganan yang lebih tepat.
