Insitekaltim, Samarinda — Di tengah maraknya tren self-healing di kalangan generasi muda Indonesia, buku What’s So Wrong About Your Self Healing hadir sebagai karya yang tidak sekadar mengikuti arus popularitas. Buku ini justru mengajak pembaca memahami makna penyembuhan diri secara lebih mendalam, baik dari sisi psikologis maupun spiritual.

Buku setebal 276 halaman ini disusun dalam format jurnal reflektif yang sederhana, namun tajam. Melalui pertanyaan-pertanyaan esensial seperti mengapa merasa tidak berharga, kenapa selalu merasa kurang, hingga apa makna self-healing sebenarnya, pembaca diajak menelusuri dinamika batin yang kerap hadir dalam kehidupan modern.
Penulis buku ini Ardhi Mohamad menegaskan, karyanya tidak dimaksudkan untuk mempopulerkan self-healing sebagai istilah semata. Ia justru membongkar berbagai kesalahpahaman yang sering melekat pada konsep tersebut di masyarakat.
Dalam buku ini, self-healing dipahami bukan sebagai upaya melarikan diri dari masalah atau sekadar mencari kesenangan sesaat, melainkan proses panjang yang menuntut keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri dan keterlibatan batin secara utuh.
Salah satu bagian yang banyak mendapat sorotan adalah pembahasan mengenai relasi dengan orang tua. Ardhi mengulas bagaimana pola asuh dan pengalaman masa kecil membentuk cara seseorang memandang diri sendiri serta menghadapi kehidupan di masa dewasa. Ia menekankan bahwa luka emosional tidak selalu lahir dari satu peristiwa besar, tetapi juga dari relasi mendasar yang terbangun sejak dini.
Menariknya, pembaca tidak diajak untuk larut dalam sikap menyalahkan masa lalu atau orang lain. Sebaliknya, buku ini mendorong proses berdamai dengan pengalaman tersebut sebagai langkah awal menuju pemulihan diri.
Selain relasi keluarga, buku ini juga menyinggung persoalan kesepian, kecemasan, kebutuhan akan pengakuan, hingga rasa kehilangan arah hidup yang kerap dialami banyak orang. Ardhi tidak hanya memetakan persoalan, tetapi juga mengajak pembaca menemukan makna hidup melalui penerimaan diri (self-acceptance) dan kedekatan dengan nilai-nilai spiritual.
Buku ini turut mendapat perhatian dari sejumlah pembaca, salah satunya Rania, seorang pengulas buku yang membagikan refleksinya melalui akun TikTok Rania Book & Study. Dalam ulasannya, Rania menyoroti bagaimana buku ini mengangkat berbagai persoalan yang berpotensi melukai kondisi psikologis seseorang, mulai dari tuntutan orang tua, standar kesuksesan yang tinggi, hingga perasaan gagal dan kehilangan tujuan hidup.
“Pahitnya perubahan sering kali terasa menyakitkan, tetapi justru di situlah proses pertumbuhan dimulai,” ujar Rania dalam salah satu refleksinya.
Ia juga menegaskan bahwa self-healing bukan sekadar tren atau aktivitas relaksasi semata.
“Self-healing bukan tentang lari dari masalah, tetapi tentang memahami, menerima, dan memperbaiki diri secara perlahan,” tambahnya.
Melalui pendekatan yang dekat dengan realitas kehidupan dan perasaan manusia modern, buku ini mengajak pembaca bercermin serta menyadari bahwa keterpurukan bukanlah akhir perjalanan. Dari fase tersebut, seseorang justru dapat mulai mengenali jati diri dan membangun kembali kepercayaan diri yang sempat runtuh.
Dengan demikian, What’s So Wrong About Your Self Healing layak menjadi referensi bagi pembaca yang ingin memahami self-healing secara lebih utuh bukan sekadar konsep populer, melainkan proses reflektif yang nyata dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
