Insitekaltim, Samarinda – Ketua Umum DPP Pusaka Abdunnur menegaskan pentingnya komitmen bersama dalam merawat warisan budaya Kalimantan Timur (Kaltim) pada Seminar Budaya Warisan Budaya Kalimantan Timur: Pelestarian, Tantangan dan Regenerasi yang digelar di Ruang Mancong, Hotel Mesra Jalan Pahlawan, Sabtu, 14 Februari 2026.
Dalam sambutannya, Abdunnur menyampaikan bahwa Pusaka atau Persekutuan Suku Asli Kalimantan (Pusaka) Kaltim hadir sebagai wadah pemersatu dalam menjaga identitas dan jati diri budaya daerah.
“Kalau bukan kita yang merawat, siapa lagi?” tegasnya di hadapan peserta seminar.
Ia menekankan menjaga bumi berarti membangun peradaban, dan merawat budaya sama halnya dengan mengembangkan peradaban itu sendiri sebagai bagian dari sistem pembangunan bangsa.
Menurutnya, budaya tidak boleh dipandang sebagai pelengkap, melainkan fondasi dalam membentuk karakter dan arah pembangunan.
Abdunnur juga menyinggung perubahan zaman yang berdampak pada pergeseran nilai di kalangan generasi muda. Jika dahulu masyarakat menjadi pelaku budaya dalam keseharian, kini anak-anak muda dinilai semakin banyak terpengaruh budaya luar hingga perlahan melupakan akar budayanya sendiri.
Ia mengapresiasi kehadiran mahasiswa dalam seminar tersebut. Menurutnya, generasi muda khususnya Gen Z, memiliki peran sebagai agent of change yang mampu mengimbangi derasnya arus informasi dan budaya global.
“Gen Z inilah yang bisa meng-counter dahsyatnya informasi dan budaya luar. Kalau yang lama tidak dijaga, akan hilang,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti seminar ini harus mendapat dukungan luas agar berjalan konsisten. Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah, termasuk dalam mendorong media untuk menyebarluaskan informasi terkait pelestarian budaya.
“Ini menjadi komitmen kita bersama, dan Pusaka sebagai wadahnya. Mari saling menguatkan, bersama-sama pemerintah, untuk mempertahankan budaya kita,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Harian DPP Pusaka sekaligus ketua panitia Asia Muhiddin menyampaikan, seminar ini lahir dari rasa keprihatinan terhadap kondisi generasi saat ini yang dinilai semakin tidak mengenal budayanya sendiri.
“Seiring berjalannya waktu generasi sekarang tidak tahu, tidak melihat, dan tidak mengenal budayanya sendiri,” terangnya.
Meski demikian, ia menegaskan pelestarian budaya bukan berarti menolak modernisasi atau ingin memutar kembali masa lalu. Namun, masyarakat tidak boleh berdiam diri ketika modernisasi perlahan menggerus budaya lokal.
“Bukan berarti kita ingin memutar jarum jam ke belakang. Tapi apakah kita harus berdiam diri saat modern menggerus budaya kita?” katanya.
Asia juga menilai bahwa budaya memiliki potensi strategis apabila dikelola dengan baik. Selain tetap terjaga, budaya juga dapat menjadi daya tarik wisata yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah.
“Jika budaya bisa dikelola dengan baik, maka bisa menarik wisatawan dan budaya tetap dipertahankan,” jelasnya.
Ia berharap seminar ini menjadi langkah awal untuk agenda-agenda kebudayaan berikutnya yang lebih berkelanjutan.
“Yang paling penting adalah bagaimana menapakkan tangga hari ini untuk langkah-langkah seminar lainnya ke depan,” tutupnya.

