Insitekaltim, Samarinda — Menghadapi lonjakan konsumsi menjelang bulan suci Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Samarinda memperkuat pengawasan pangan dan obat melalui kolaborasi lintas sektor, dari hulu distribusi hingga ke meja makan masyarakat.
Kepala BBPOM Samarinda Agung Kurniawan menegaskan, tantangan pengawasan di era saat ini tidak dapat ditangani oleh satu lembaga saja. Harmonisasi antarinstansi menjadi kunci untuk menutup celah peredaran produk berisiko di tengah tingginya mobilitas barang.
“Pengawasan tidak bisa berjalan sendiri. Menjelang Ramadan dan Idulfitri, kami meningkatkan intensitas pengawasan pada sarana produksi, distribusi, hingga penjamah makanan melalui kolaborasi lintas sektor agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” ungkap Agung, Kamis, 12 Februari 2026.
BBPOM Samarinda menerapkan strategi pengawasan berbasis tiga pilar utama, yakni pengawasan produksi, distribusi, serta edukasi terhadap penjamah makanan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan produk yang beredar tidak hanya tersedia secara kuantitas, tetapi juga aman dan bermutu.
Tidak hanya menyasar pasar tradisional dan modern, BBPOM juga memperluas pengawasan ke jalur masuk logistik. Kerja sama diperkuat dengan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda dan Bontang guna memitigasi masuknya produk ilegal, khususnya kosmetik berbahaya dan obat-obatan tanpa izin edar yang kerap masuk melalui jalur laut.
Selama bulan Ramadan, BBPOM Samarinda akan mengerahkan Mobil Laboratorium Keliling secara acak di berbagai titik penjualan takjil. Melalui fasilitas ini, petugas dapat langsung menguji sampel makanan di lokasi untuk mendeteksi kandungan bahan berbahaya seperti boraks, formalin, dan pewarna tekstil Rhodamin B.
Selain itu, inspeksi mendadak (sidak) bersama lintas sektor juga akan dilakukan di sarana distribusi besar guna memastikan keamanan dan mutu pangan tetap terjaga.
Di sisi lain, BBPOM Samarinda turut mengedepankan pendekatan edukatif. Bersama Dinas Kesehatan dan Badan Gizi Nasional (BGN), BBPOM memberikan pelatihan kepada pengolah makanan di lingkungan sekolah serta kelompok masyarakat rentan, agar penerapan standar higienitas sesuai regulasi keamanan pangan nasional dapat berjalan optimal.
Agung Kurniawan juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga keamanan pangan melalui penerapan prinsip CEK KLIK—cek kemasan, baca label, pastikan izin edar BPOM, dan perhatikan tanggal kedaluwarsa.
“Kami ingin masyarakat menjadi pengawas bagi dirinya sendiri. Dengan membiasakan CEK KLIK sebelum membeli, risiko kesehatan dapat dicegah sejak awal,” tegasnya.
Melalui integrasi program BBPOM dengan pemerintah daerah dan instansi vertikal lainnya, diharapkan masyarakat Kalimantan Timur dapat menjalani ibadah Ramadan dengan tenang tanpa kekhawatiran terhadap keamanan pangan dan obat yang dikonsumsi.

