Insitekaltim, Samarinda – Gedung Pandurata yang diproyeksikan menjadi pusat layanan medis terbaru, kini memasuki tahap krusial yaitu masa pemeliharaan dan pemenuhan sarana prasarana.
Pihak manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie (RSUD AWS) menargetkan aktivitas pelayanan medis sudah bisa sepenuhnya berpindah ke gedung baru pada Juni atau Juli 2026 mendatang.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD AWS Nurliana Adriati Noor menyampaikan, koordinasi lintas sektor terus digenjot, mengingat penanggung jawab utama konstruksi fisik berada di bawah kendali Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kaltim.
“Fokus saat ini adalah memastikan setiap detail bangunan memenuhi standar pelayanan rumah sakit kelas dunia,” katanya Senin, 9 Februari 2026.
Berdasarkan peninjauan terbaru bersama Komisi IV DPRD Kaltim, Nurliana mengonfirmasi secara struktural lantai 1 hingga lantai 6 yang akan digunakan sebagai ruang pelayanan utama telah mencapai tahap penyelesaian yang signifikan.
“Secara garis besar lantai 1 sampai lantai 6 yang akan difungsikan untuk ruang pelayanan sebagian besar sebenarnya sudah selesai. Saat ini kami sedang mengoptimalkan masa pemeliharaan agar di bulan 6 atau bulan 7 kami sudah bisa mulai pindah secara bertahap,” ungkapnya.
Meskipun fisik bangunan sudah berdiri kokoh. Ia menekankan pentingnya aspek pemeliharaan yang intensif selama enam bulan ke depan. Hal ini mencakup perbaikan-perbaikan minor namun krusial, seperti kondisi plafon dan struktur tiang yang sempat menjadi sorotan dalam kunjungan legislatif.
Salah satu aspek teknis yang paling mendalam dibahas adalah mengenai aksesibilitas pasien. RSUD AWS melakukan penyesuaian pada lebar pintu ruangan agar kompatibel dengan alat transportasi pasien modern.
Berbeda dengan rumah sakit konvensional yang sering memindahkan pasien menggunakan brankar kecil, Gedung Pandurata dirancang untuk mobilitas tempat tidur (bed) pasien secara langsung.
“Untuk lebar pintu, kita menyesuaikan standar dan luasan alat transport. Kita tidak lagi menggunakan brankar yang ukurannya lebih kecil, tetapi ukuran yang seukuran dengan bed. Tujuannya agar sirkulasi cepat, tempat tidur pasien bisa langsung berpindah tanpa harus memindahkan pasien berkali-kali,” jelasnya.
Di tengah persiapan pemenuhan alat-alat baru, manajemen RSUD AWS juga menerapkan strategi efisiensi anggaran yang cerdas.
Setelah melalui proses pemeriksaan ketat, sejumlah peralatan medis dan furnitur dari gedung lama yang masih memiliki standar teknologi tinggi diputuskan untuk tetap digunakan.
“Ada sebagian yang bisa kita alihkan dari ruangan lama seperti tempat tidur dan lemari pasien yang sudah kami periksa dan kondisinya masih sangat layak. Apalagi rata-rata tempat tidur kita sudah model canggih, jadi sangat memadai untuk ditempati di Gedung Pandurata nanti,” tambahnya.
Kesungguhan pemerintah dalam merampungkan proyek ini terlihat dari keterlibatan langsung jajaran pimpinan daerah. Dua minggu sebelum peninjauan ini, manajemen rumah sakit telah melakukan pembahasan mendalam dengan Kepala BPKAD dan Kepala Bappeda Kaltim untuk memastikan dukungan anggaran pemeliharaan dan operasional tidak menemui kendala.
“Kami sudah bahas sekitar dua minggu lalu, apa saja yang jadi perhatian dan itu sudah dicatat oleh PU. Kami sudah berdiskusi bersama termasuk kekurangan-kekurangannya agar selama masa pemeliharaan 6 bulan ini, semua catatan tersebut bisa diselesaikan dengan sempurna,” tutupnya.
Gedung Pandurata diharapkan tidak hanya menjadi tambahan ruang fisik bagi RSUD AWS, tetapi juga menjadi simbol transformasi layanan kesehatan di Kaltim yang lebih cepat, efisien, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

